SATI dan MALA: Monas dalam bahaya

Sati dan Mala (2)

Jakarta, kota untuk para pencari mimpi. Kota ini adalah kota bagi mereka yang tidak lelah untuk bermimpi, karena jika kau lelah, kau akan tergilas roda-roda yang bernama kenyataan. Mala, salah satu pencari mimpi di kota ini, sudah hampir beberapa tahun Mala mengejar mimpinya. Sampai saat ini, Mala masih kuat untuk bermimpi dan mewujudkannya.

Suatu hari, Mala mengajak Sati untuk berkunjung ke kotanya, Jakarta. Sati yang berada di Tanah Minang, Kota Padang, lansung menyusun jadwal keberangkatan menuju Jakarta. Sati sering mendengarkan cerita tentang kota Jakarta, terkadang Sati melihat kota ini di televisi, dalam setiap berita selalu saja ditampilkan tentang carut-marut dari Kota Jakarta. Sati berpikir, kenapa kota ini selalu menjadi magnet untuk para pencari mimpi, apa beda kota ini dengan kota-kota lainnya di Indonesia. Hal itulah yang  akan dibuktikan oleh Sati, bagaimana bentuk mimpi-mimpi yang ditawarkan oleh kota ini atau sebaliknya.

Perjalanan dari Kota Padang menuju Jakarta, seperti diiringi lagu salah satu group band favorit Mala:

“…tunggulah aku di Jakartamu, tempat labuhan semua mimpiku

tunggulah aku di kota itu, tempat labuhan semua mimpiku

Aku pun sempat janjikan, kukayuh semua mimpiku, kulabuh tepat di kotamu

dan Kau pun selalu janjikan, Kau kan menungguku datang

bersatu seperti dulu… ”

Sati sangat menikmati perjalanan menuju kota mimpi ini. sejauh ini, kota ini masih menawarkan mimpi yang beragam. Mala sudah menunggu kedatangan Sati, tidak ada yang berubah dari Mala, masih cantik seperti dulu.

“selamat datang di Jakarta”

“akhirnya sampai juga di Jakarta, kemana kita akan bertualang hari ini?”

“hmmm…,bagaimana kalau ke Monas?”

“Monas! Sepertinya menarik, kata orang Monas adalah salah satu kebanggan dari kota ini” Sati sangat bersemangat untuk menjelajahi kota ini bersama Mala.

Sati dan Mala (4)Sati dan Mala pun sepakat, untuk bertualang di kota mimpi ini, yang dimulai dari Monas. Monas dapat dicapai dengan menggunakan Bus Damri dari bandara ke Stasiun Gambir, dan dilanjutkan dengan berjalan kaki. Mala sangat ingin bercerita tentang banyak hal kepada Sati, terlihat jelas ketika Ia menjelaskan detail setiap tempat dan cerita di baliknya.

Sati mulai menikmati kota ini, Monas dan aktivitas di sekitarnya. Sati dan Mala, mereka berdua, duduk dan bercengkerama tentang hal-hal kecil, tentang segala sesutau yang menarik. Percakapan kecil itu sungguh menyenangkan. Duduk di taman dengan hamparan hijau rerumputan, tidak berjauhan dari sana, beberapa orang sedang bermain bola, dan di depan mereka duduk seorang penjual lontong sayur yang menawarkan dagangannya pada setiap orang yang lewat.

Sati dan Mala (3)

Sati dan Mala

Sati dan Mala larut dalam obrolan mereka, sampai-sampai mereka tidak menyadari keanehan-keanehan yang terjadi di sekitar mereka. Salah satu dari keanehan itu adalah kebiasaan membuang sampah sembarangan. Suatu kebiasaan yang aneh di tempat yang dijadikan kebanggaan sebuah kota. Keanehan yang sudah terbiasa. Tua-muda, besar-kecil, pria-wanita sudah terbiasa dengan hal ini.

Sati dan Mala (5)Tapi bukan keanehan namanya, jika tidak menimbulkan keanehan berikutnya. Awalnya hanya beberapa orang saja yang terbiasa dengan keanehan ini, makin lama akan diikuti oleh yang lainnya tanpa mereka sadari. Waktu demi waktu, sampah-sampah tersebut menumpuk, menumpuk dan semakin menumpuk, lama-lama akan menciptakan monster yang akan melahap semuanya.

Sati dan Mala (1)“Tolooooong….”

“Lariiiiii…….”

“Waaaaaaa….”

“Selamatkan diri, ada serangan monster…..”

Alarm berbunyi, meraung-raung menambah kehebohan. Sati dan Mala terkejut melihat kehebohan yang terjadi. Kenapa semua orang berlari-larian, apa yang mereka lakukan?

Pada saat Sati dan Mala yang masih mencari tahu apa yang sedang terjadi, perlahan-lahan suara gemerisik datang dari arah belakang mereka. Suara apa gerangan? Saat mereka menoleh, sesuatu yang sangat mengerikan muncul.

Sati dan Mala (6)“Waaaaaaaaa, monsterrrrr…..”

Sati dan Mala terkejut bukan kepalang, sampah-sampah di Kota Jakarta, yang sudah menumpuk, telah berubah menjadi wujud monster yang mengerikan.

“Ayo lari, kita harus menyelamatkan diri” Sati segera menarik lengan Mala dan berlari menjauhi monster itu.

“tapi….tapi Monas dalam bahaya” ucap Mala sambil terus berlari.

(To be continued…)

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s