Kusen Pintu dan Jendela (Oleh: Robby Jannatan)

Kawan, rumah adalah tempat untuk pulang, tempat semua kenangan tersimpan, tempat semua rasa tercipta, tempat segala impian berawal, tempat semua kebahagiaan bermuara, tempat segala cinta bermula, dan tempat sebuah kehidupan tercipta. Kamu akan selalu ingat warna kusen pintunya, kusen jendelanya- coklat tua- bahwa setiap rasa akan terukir, tempat semua kebahagian ada.

Saat kamu buka pintunya- coklat tua, kamu akan lihat semua kenangan, semua tentang dirimu. Kamu akan lihat saat kamu bergelayutan di gagang pintunya, berlarian berputar-putar diantara dua meja, memanjat kursi dan menaiki lemari, lalu kamu akan berlari ke kamar mandi, mengisi mainan pistol airmu dengan air sabun. Saat kamu masuk ke dalam rumah, kamu akan lihat betapa nakalnya dirimu dulu, atau seberapa cengengnya wajah memelasmu dan betapa bandelnya kamu karena tak mengiyakan ibu. Kamu tau, semuanya tersimpan dan terukir dalam kusen pintu yang kamu gelayuti atau kusen jendela yang kamu naiki, kamu pasti ingat warnanya –coklat tua.

Kamu akan ingat saat senja dengan hujan yang derasnya minta ampun, kamu dan adikmu sedang duduk berdua dibawah meja, kamu memegang pena yang kau dapat dari meja ayah. Kamu merobek kertas buku sekolahmu untuk kau gambar, kamu memulainya dengan menggambar sebuah robot, beberapa lengkungan garis cukup membuat adikmu begitu terpesona, matanya berbinar-binar, betapa mengagumkan dirimu di matanya,bahwa kamulah orang paling hebat di dalam dirinya. Kaki meja menyimpan semua kenangan itu, kenangan tentang semua kebaikanmu – bahwa kamu cukup bisa mengalihkan perhatian adikmu dari hujan yang menakutkan dirinya dengan menggambarkannya sebuah robot hanya dengan beberapa lengkungan garis.

kawan, kamu akan ingat saat kamu shalat. Adikmu yang tak tau apa-apa menggodamu dengan menjulurkan lidahnya, atau dia pura-pura cuek lalu mengejutkanmu, atau bertindak lucu agar kau tergoda – adikmu yang masih kecil dan masih tak tau apa-apa. Kamu yang sambil menahan tawa mengurangi setiap inchi kekhusyukanmu, kamu tersenyum dalam shalatmu melihat tingkah polahnya yang mengganggumu. Setelah kamu shalat, kamu tidak marah, kamu menasehatinya dengan lembut dan lunak, kamu tau sajadah menyimpan semua kenanganmu tentang itu.

Termos es yang di atas lemari itu kadang merindukanmu, kamu pasti ingat. Betapa besar kerja kerasmu dulu waktu sekolah dasar. Kamu sekolah sekaligus membantu ibu, kamu pasti ingat saat semua semangatmu tersimpan erat dalam termos es. Ibu membuatkan es, kamu membawanya ke sekolah dengan termos yang besarnya hampir setinggi pinggangmu. Kamu pasti ingat saat termos es tersenyum kepadamu, bahwa dia salut atas semangatmu mengangkatnya menuju sekolah – sebuah termos yang penuh dengan es, kamu berjalan terpincang-pincang, lima langkah berjalan, kamu akan berhenti, lalu berjalan lagi, berhenti lagi, itulah yang kamu lakukan hingga sampai sekolah. Termos es berusaha menyemangatimu mengurangi berat badannya dengan menyalurkan semangatnya kepadamu – agar kamu tak merasa berat. Setiap istirahat sekolah, kamu menjual semua es itu kepada teman-temanmu. Bahwa dalam setiap inchi kerja kerasmu untuk sekolah, terukir indah dalam kenangan termos es, bahwa dia merindukanmu pulang dan membawakannya keberhasilan yang dulu telah kau mulai bersamanya, karena dia merindukan cerita-ceritamu yang lain.

Kamu akan ingat juga semua kenangan yang kau simpan dalam baju sekolah dasarmu itu –merah putih. Semua kenakalanmu, akan selalu ia ingat. Setiap pulang sekolah, sambil membawa termos es yang kosong, kamu akan berlari bersama teman-temanmu yang lain menuju salah satu sungai di desamu. Kamu berenang di sungai itu tanpa pulang terlebih dahulu, kamu juga akan ingat saat kau tertunduk dimarahi ibu saat pulang karena pergi tanpa izinnya. Semua itu tersimpan dalam lusuhnya baju sekolah dasarmu. Tapi kamu jangan khawatir, setiap semua semangat belajarmu juga tersimpan di dalam sakunya, saat kamu menghapus tulisan di bukumu karena salah menuliskan huruf A atau angka lima, atau saat kamu mewarnai semua buku warnamu dengan pensil warna yang panjangnya tinggal se-inchi.

Kawan, mereka akan selalu memberikan semangatnya untukmu saat kau ragu, hilang arah, atau saat kau tak bersemangat, cukup kau lihat mereka, mereka akan tersenyum kepadamu. Saat kau redup, mereka akan menerangkanmu, bahwa kamu dalam kenangan mereka adalah seorang yang mempunyai semangat, pantang menyerah, selalu ceria dan tak pernah putus asa. Janganlah kamu membuat mereka menyimpan kenangan yang tak seharusnya kau ingat, sebuah keputus-asaan, lemah dan tak bersemangat. Bahwa separuh hidupmu telah kau lalui bersama mereka, dan separuh hidup yang lain. Tetaplah kau ingat bahwa setiap hal di dekatmu akan selalu menyimpan semua kenangan tentangmu, sajadah akan mengenang setiap kebaikan, ibadah dan doa-doamu, termos es akan menyimpan kerja kerasmu, baju lusuh merah putih itu akan selalu menyimpan semangat belajarmu. Jangan kau sia-siakan setiap waktumu, dan jangan biarkan mereka menyimpan kenangan buruk tentangmu. Buatlah tebing dan arus sungai menyimpan tentang keberanianmu, motor butut menyimpan perjuanganmu, sapu tangan menyimpan setiap keringat kerja kerasmu, kusen pintu akan menyimpan setiap salam yang kau ucapkan, buatlah mereka menyimpan semua hal baik tentangmu di separuh hidupmu yang lain, dan mereka akan mengenangmu,menjadi saksi untuk malaikat nanti yang akan tersenyum kepadamu. Dan kamu tau rumah adalah tempat menyimpan segala tentangmu, segala hidup dan cinta yangbermula dan semua kebahagiaaan bermuara.

Rumah, adalah tempat segala kenangan tersimpan, segala kebahagian terukir, dalam sajadahmu, dalam kaki meja, dalam termos es, dalam baju lusuh merah putihmu,  dalam kusen pintu dan jendela. Rumah adalah tempat semua malaikat tersenyum, kadang tertawa. Rumah adalah tempat malaikat akan berdoa, mendoakanmu, mendoakan kebaikanmu, mendoakan semua hal tentangmu yang tersimpan dalam kusen pintu. Pulanglah, agar kamu selalu mengenang kebaikanmu di kusen pintu dan malaikat akan slalu mendoakanmu, dan pintu, meja, sajadah, genteng, lemari dan semua hal yang menyimpan kenanganmu akan tersenyum menyambut kehadiranmu, saat kamu membuka pintu dan mengucapkan salam, sambil berkata “aku pulang, ibu”, dan ceritakanlah kepada mereka semua tentang cerita-ceritamu, tentang keberhasilanmu. Tentang langit yang kau lukis dengan pelangi, tentang senja yang kau warnai dengan krepuskular, tentang salju yang kau deraikan di gurun tandus, tentang malaikat yang kau buat tersenyum, tentang bidadari yang kau jaring dan pelangi yang kau sebrangi.

Rumah - RijalRumah, awal dari semua mimpi dan tempat untuk kembali.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s