Selera kebenaran

Pada zaman yang renta ini kebenaran dari bualan-bualan mulut para pengoceh yang bernama manusia.

Bukanlah kebenaran yang mutlak, hanya abstrak khayal dalam lingkaran ilusi.

Kebenaran itu hanyalah selera, suka atau tidak.

Mereka berperang karena mereka benar, mereka suka.

Mereka berontak karena mereka benar, mereka suka.

Mereka bertahan namun senjata membabi buta, mereka benar, mereka suka.

Mereka diam dan berdo’a karena mereka benar dan mereka suka.

Kau pun benar, lakukan yang kau suka.

Selama banyak orang suka.

Lakukan saja yang kau suka, dan buat semua orang suka,

itu akan menjadi kebenaran.

Semua suka, semua benar.

Semua merasa benar, namun tidak saling menyukai.

Lama-kelamaan ini pun membuatku mual.

Aku mulai jijik dengan melucuti helai demi helai pakaian pembungkus kebenaran yang mereka buat,

kebenaran yang datang dari para pembual bernama manusia,

pada saat helai terakhir hanya binatang melata yang buruk rupa yang akan kau temukan,

walau ia didandani secantik putri raja, lalu dipanggil kebenaran.

Aku muak dengan semua ini.

Aku akan pulang kembali,

kembali pulang ke pangkuan kebenaran yang mutlak.

kebenaran dari Rabb-ku, Sang pencipta para pembual-pembual itu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s