Nostalgia Gulai Tunjang dan Gulai Tambusu

“sudah lama kita tidak jumpa kawan, bagaimana kabarmu?” Gulai Tunjang menyapa kawan lamanya, Gulai Tambusu.

“awak seperti biasa kawan, singgah dari kedai nasi satu ke kedai nasi yang lainnya, awak masih belum berubah kawan, masih seperti dulu” kata Gulai Tambusu sambil menghampiri kawan lamanya. “kawan kini tinggal dimana? Lama tidak terdengar kabarnya?” Gulai Tambusu melanjutkan.

“ambo pun sama, masih seperti dulu, masih di kedai nasi kapau. Di tempat dulu kita pernah tinggal bersama” Gulai Tunjang merapikan duduknya di dalam sebuah panci besar yang berdekatan dengan Gulai Tambusu.

“kalau sudah begini, teringat masa-masa kita bersama dulu”.

“iya betul, waktu kita bertanding siapa yang paling laris, dan ambo selalu menang, huahahahaha…” Gulai Tunjang tertawa terbahak-bahak dan hampir menumpahkan kuah gulainya.

“ya, dalam hal itu kau memang ahlinya kawan, huahahahaha” Gulai Tambusu pun ikut tertawa. ”apakah kau masih ingat kawan, salah seorang langganan warung kita, setiap hari Jum’at Beliau datang dan membeli sebungkus nasi kapau, Ia adalah pelanggan istimewa kita” Gulai Tambusu bercerita saat mereka tinggal bersama dulu.

“hmmm…ambo tidak terlalu memerhatikan, soalnya waktu itu langganan kita memang banyak” Gulai Tunjang menimpali sambil mengingat-ngingat. “kira-kira kapan kejadiannya ya?” Gulai Tunjang melanjutkan, berharap Ia akan mengingatnya kalau waktunya diketahui.

“Awak rasa sekitar 13 tahun yang lalu, Awak pun tidak tahu pasti waktunya. Sudah lama sekali”. Gulai Tambusu kembali mengingat kejadian belasan tahun yang lalu. “yang jelas, setiap hari Jumat kita selalu diajak ke rumahnya, kita dibungkus bersama yang lainnya dalam sebungkus nasi kapau. Kalau tidak salah, Ia selalu membeli satu bungkus nasi yang nantinya dimakan bersama anggota keluarga yang lain. Waktu itu keluarga mereka terdiri dari empat orang; Ayah, Ibu dan dua orang anak laki-laki”.

“wah, ambo ingat, ambo ingat!” Gulai Tunjang mengagetkan Gulai Tambusu yang lagi fokus untuk mengingat kembali detail kenangan ketika mereka bersama. “Ambo ingat, rumah mereka mudah sekali dikenali, rumah kecil yang terletak di pinggir sungai dan yang paling menonjol adalah pohon beringin besar yang tidak jauh dari rumah itu, ambo ingat sekarang. Semua anggota keluarganya memanggil beliau “Ama”, yang selalu tersenyum ketika Ia pulang, dan kedatangannya selalu disambut oleh anak laki-lakinya dengan pertanyaan “Apa yang Ama belikan untukku?”, ambo ingat semua kenangan itu” Gulai Tunjang menjelaskan.

“ya betul, mereka memangginya “Ama”, sedikit beda dengan panggilan yang lainnya” Gulai Tambusu berkomentar. “kenangan yang tidak akan mungkin kita lupakan dan mengajarkan kita tentang kesederhanaan, adalah ketika Ama yang hanya membeli sebungkus nasi kapau untuk dimakan berempat, Ama yang tidak sempat memasak, karena hari itu adalah hari jum’at, harinya untuk pasar tradisional, dan ketika Ama sampai di rumah pun waktu shalat Jumat juga sudah dekat”.

Sementara Gulai Tambusu bercerita, Gulai Tunjang hanya terdiam dan larut dalam lamunannya tentang keluarga yang sederhana itu.

“satu hal yang membuat awak menyukai pekerjaan ini” kata Gulai Tambusu. “adalah ketika semua makan dengan lahap, sopan dan saling berbagi, kemudian wajah-wajah dengan penuh senyuman menghiasi rumah itu. Apalagi Ama yang sangat lega melihat keluarganya senang, seakan semua penat yang ia rasakan hilang lenyap oleh senyuman-senyuman itu” Gulai Tambusu melanjutkan.

Sambil menerawang jauh ke depan, bagai tatapan matanya akan menembus dimensi-dimensi ruang dan waktu, Gulai Tunjang berkata “bagaimana kabar keluarga itu sekarang? Bagaimana kabar Ama? Masihkah seperti dulu atau sudah banyak yang berubah?”.

Hening, mereka berdua terdiam dan larut dalam nostalgia tentang keluarga kecil sederhana itu.

“Bungkus Gulai Tunjang samo Gulai Tambusu yo Tek” sebuah suara pelanggan yang memesan makanan membuyarkan lamunan mereka.

“ayo kerja, ayo kerja, banyak perut dari keluarga lainnya yang harus kita isi dan akan menghasilkan senyuman bahagia yang sama” Gulai Tunjang berkata sambil tersenyum pada Gulai Tambusu. Mereka yang sangat professional di bidangnya, terlihat betapa cekatannya mereka bekerja.

Gulai Tambusu berhenti sejenak dan dalam hati Ia berkata: “apa kabarmu Ama, semoga dirimu dan keluargamu selalu sehat dan bahagia, amin”.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s