Dongeng tentang sebuah komunitas

Dalam ilmu Biologi, Komunitas adalah sekelompok organisme dari populasi yang berbeda yang menempati ruang dan waktu yang sama, atau berbagi lingkungan. Komunitas yang tersusun dari berbagai populasi ini, akan membentuk suatu interaksi antar mereka ataupun dengan lingkungannya.

Dulu kala, pada zaman senior selalu benar, kalau senior salah silahkan tinjau ulang pasal satu, saya diceritakan tentang “Dongeng sebuah Komunitas”. Dongeng yang menurut saya memiliki arti yang lebih jika hanya dikatakan sebagai dongeng, mengajarkan kita tentang arti dari interaksi antara satu dengan yang lainnya, karena kita berada dalam satu ruang dan waktu yang sama, dan kita berbagi lingkungan tersebut.

Kakek Darwin dengan teori Seleksi alamnya mengatakan bahwa “mahluk hidup yang tidak mampu beradaptasi dengan lingkungannya, maka lama-kelamaan akan punah”. Teori ini dengan jelas menyatakan bahwa kalau tidak mampu bertahan pada suatu kondisi lingkungan, maka kamu akan menjadi orang yang kalah, kemudian punah, hilang tak berbekas.

Dongeng ini bermula dari teori ini, saat saya memasuki suatu komunitas dimana di dalam komunitas tersebut terdapat beragam populasi, dan kita berbagi ruang dan waktu yang sama, serta ketertarikan dan minat yang sama pada lingkungan tersebut. Adanya teori seleksi alam membuat saya berpikir berulang kali untuk memasuki komunitas ini. satu hal yang menjadi bahan pikiran saya adalah;

“jika saya masuk ke dalam komunitas tersebut, saya yang berubah mengikuti komunitas itu, atau komunitas tersebut yang saya ubah mengikuti pemikiran ideal saya”.

Sebuah pemikiran yang aneh, namun bisa menentang seleksi alam. Komunitas anda yang akan merubah saya sehingga saya mengikuti apa yang terjadi di komunitas anda, atau saya yang mengubah komunitas anda sehingga apa yang terjadi sesuai dengan yang saya inginkan yang ideal menurut standar saya. Pemikiran pertama adalah pemikiran orang yang fleksibel yang mampu beradaptasi dengan setiap kondisi lingkungan, namun kondisi lingkungan tersebut lama-kelamaan akan mengubah orang tersebut. Pemikiran pertama akan menubah anda menjadi orang lain dengan pribadi yang berbeda dari sebelumnya, namun anda akan bertahan selama pemikiran anda tetap bertahan, tanpa ikut melebur dengan proses yang dijalani. Pemikiran kedua adalah pemikiran seorang yang frontal, maju terus tanpa mau mundur selangkah, keras, ideal dengan suatu standar tertentu, namun dengan tingkat keberhasilan yang sangat rendah. Tentu saja akan menjadi sangat sulit untuk mengubah orang banyak, apalagi itu suatu habit atau kebiasaan, jangankan orang banyak, mengubah satu orang saja akan membutuhkan waktu dan proses yang lama.

Saya ingat ketika “senior yang selalu benar, kalau salah kembali ke pasal satu” menerapkan konsep ini, pada waktu itu saya memotong rambut sangat pendek sekali, padahal yang diperintahkan adalah seragamkan model potongan rambut kalian, maksudnya adalah panjang rambut. Waktu itu saya salah paham dalam mengartikan instruksi ini, jadilah saya dengan potongan rambut yang paling pendek. Setelah dikumpulkan semua laki-laki dalam satu kelompok, maka dengan sangat jelas terlihat bahwa kepala saya yang paling botak. Tidak membutuhkan waktu yang lama untuk mengambil keputusan, nama saya dipanggil ke depan, tejadilah interogasi yang sengit dengan kesimpulan akhir, “APAKAH KAMU YANG AKAN MENYAMAKAN POTONGAN RAMBUT DENGAN TEMAN-TEMANMU atau TEMAN-TEMANMU YANG MENYAMAKAN POTONGAN RAMBUTNYA DENGANMU”. Secara logika, saya tidak mungkin memanjangkan rambut dalam waktu yang singkat agar potongan rambut kami menjadi sama. Pilihan lain yang lebih logis adalah teman-teman saya yang berambut lebih panjang, memotong rambutnya supaya rambut kita menjadi seragam.

Dalam hal ini, telah terjadi seleksi alam, dimana yang kuat dan mampu bertahan secara logika akan berhasil, sedangkan yang kalah akan tereliminasi. Namun perumpamaan seleksi alam dengan rambut ini, saya rasa kurang tepat, tapi disana menjelaskan tentang penggunaan logika dan cara pikir.

Kembali lagi kita lanjutkan tentang dongeng saya yang memasuki sebuah komunitas. Dengan meggunakan logika, saya memutuskan pilihan kedua, yaitu saya akan mengubah komunitas tersebut sesuai dengan standar ideal saya. Tentu saja membutuhkan proses dan waktu yang lama. Singkat cerita, setelah saya memasuki komunitas tersebut saya menilai setiap aspeknya, bagaimana peranan individu dalam populasi, bagaimana hubungan antar individu sehingga membentuk populasi, bagaimana interaksi antar populasi, bagaimana interaksi dengan lingkungannya. Saya mengumpulkan setiap informasi yang dibutuhkan, pada saat informasi itu cukup, saya kembali mengevaluasi dan menguji setiap kemungkinan dan tingkat keberhasilannya.

Saya tidak ingin menjadi mahluk hidup yang kalah, kalah berarti akan punah, menjadi korban dalam seleksi alam. Kalau kalah, hanya dari fosillah orang lain mengetahui keberadaan kita, kalau fosilnya bagus tentu pendapat orang lain akan bagus, namun bagaimana kalau fosilnya jelek, sudah dapat dibayangkan penilaian orang lain. Saya tidak ingin bersikap egois dengan hanya mengubah komunitas tersebut sesuai keinginan saya, namun saya mengatakan bahwa saya memiliki standar ideal untuk komunitas tersebut. Karena berdasarkan data yang telah saya dapat dan dipelajari, terbukti bahwa komunitas tersebut memiliki standar di bawah standar ideal yang saya miliki. Perlahan-lahan cerita tentang dongeng ini berlanjut, seiring standar ideal tersebut diterapkan.

Bukan Alam namanya kalau dengan mudah dimodifikasi oleh manusia, Alam yang selalu tidak bisa diprediksikan kapan datang bencana, kapan datang musim berbunga, dan sebagainya. Bukan “Seleksi Alam” namanya kalau hanya dengan mudah dihadapi, ternyata mengubah suatu komunitas tersebut sangatlah sulit, apalagi individu-individu yang tergabung dalam populasi sudah memiliki kebiasaan atau habitnya sendiri, yang bertentangan dengan istilah ideal yang saya miliki.

Setiap dongeng biasanya akan berakhir dengan akhir yang bahagia, namun dongeng kali ini belum berakhir, karena kisahnya masih terus berlanjut. Walaupun dalam masa yang sangat sulit setiap mahluk hidup melakukan tidur panjang atau “dormansi”, sehingga waktu untuk kembali tumbuh dan berkembang datang. Saya tidak akan kalah dari seleksi alam ini, walaupun pilihan tersebut “Memangsa atau dimangsa”, interaksi ini lebih mengarah pada pemikiran. Saya tidak akan membiarkan pemikiran saya dimangsa, saya akan terus berjuang untuk hidup. “Anda yang mengubah saya, saya yang akan mengubah Anda atau kita menyamakan standar ideal yang kita miliki”.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s