Suara malam

Cerita tentang para sahabat, konco-konco, Mandan-mandan, kawan-kawan, teman-teman dan rekan-rekan yang tergabung dalam GOLGI KOMPLEX (biasa dipanggil dengan GOLEXS) tidak akan pernah ada habisnya. Walaupun cerita yang sama diceritakan berulang kali, tetap saja membuat ngakak. Bercerita dari pagi sampai pagi selanjutnya pun cerita ini tidak akan selesai-selesai, kecuali kantuk yang akan menghentikan. Salah satu cerita itu kita beri judul “Suara Malam”.

Pada malam hari, ketika berada di pinggir sawah, terutama sawah yang sudah siap dibajak dan akan ditanami, apa yang akan anda dengar?. Itulah suara malam, suara para hewan malam, suara para koncekkoncek yang bersenandung riang. Dalam riuhnya para koncek mengobrol antara satu dengan yang lainnya. Obrolan tentang gossip terbaru dalam selebritas koncek atau para koncek-koncek tetangga yang aneh-aneh atau tentang hujan yang akan turun di musim panas.

Atau obrolan para Golexs yang berhubungan dengan koncek. Pada waktu “senior selalu benar, kalau senior salah kembali ke pasal satu”. Para Golexs harus menyebut kata “koncek” tiga kali pada setiap percakapannya.

“lapor da, awak ingin masuk, koncek…koncek…koncek”

“di sini tidak menerima koncek…”

“awak bukan koncek da, koncek…koncek…koncek”

“jadi, ambo yang dipanggil koncek…” sambil marah dan menunjuk-nunjuk.

“buuu…kaan da, awak disuruh ikut gabung, koncek…koncek…koncek”

“masih dipanggil koncek ruponyo yo, ambil posisi push up, sekaraaaaaaaaaang….” Lansung meledak-ledak marah.

“iii…yo da, koncek…koncek…koncek” dan lansung mengambil posisi push up.

“kamu dongkol saya suruh push up?” bertanya dengan mata melotot.

“tii…daak da, koncek…koncek…koncek” menggigil karena tidak kuat push up, tapi masih saja diajak bicara.

“dipanggil juo ambo jo koncek lai, tambah push up-nyo”.

***

Waktu yang lain, sebelum praktikum “Sistem Perkembangan Hewan (SPH)”, biasanya praktikum ini terdiri dari dua episode SPH 1 dan SPH 2, selalu saja membutuhkan objek-objek segar, yaitu koncek-koncek tambun.

“Semua anggota Golexs berkumpuuuuul…”

“Siap, komandan”

“apakah persenjataan siap semua?”

“siap komandan”

“ayo kita berangkat, kita singsingkan celana, kita serbu, besar kecil tangkap, masukkan ke dalam ember, jangan lupa tutupnya, kalau tidak meloncat kaburnyo”.

Namun, semua itu tidak semudah yang dibayangkan, karena para koncek ini sakti mandraguna. Pada saat Golexs tidak mencari koncek, tapi mencari objek lain, para koncek ini seringkali berpapasan, beradu pandang, merayu untuk ditangkap. Namun, pada saat target pencarian adalah koncek, tidak satupun terlihat batang hidungnya, walaupun koncek tidak punya batang hidung.

Suaranya terdengar riuh bersahutan. Saat dicari, diperiksa di setiap sudut-sudut sawah, sampai-sampai setiap centimeter lunau sawah dibolak-balik, bahkan pak tani pun tidak perlu lagi membajak sawahnya, karena sudah kami bajak semalam dengan mencari koncek. Hanya dua tiga ekor yang tertangkap, kadang suara-suara malam para koncek ini seakan-akan mengejek.

“huahahaha, kami di sini…” dalam bahasa koncek.

“kasihan deh lu, tidak bisa nangkap ane” konceknya baru pulang dari rantau.

“eke disini cyiiin…, tangkap eke dong aaaah…” koncek yang lupa jenis kelaminnya.

Alhasil, keesokan harinya praktikum SPH tetap dilanjutkan dengan jumlah koncek seadanya. Setiap kenangan, selalu seru diceritakan kembali. Setiap cerita akan seru untuk dilanjutkan di lain waktu.

Footnote:

1. Koncek = katak.

2. Konco/ Mandan = Sahabat dekat.

3. Lunau = lumpur.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s