Negeri Para Bocah Ingusan

Nafas yang tersengal-sengal, tubuh yang mulai menggigil, namun mereka terus berlari. Langkah kaki yang mulai tidak beraturan, oleng kiri dan kanan, mereka tidak peduli, hanya pandangan jauh ke depan di balik semak-semak ini berharap terdapat perlindungan. Ilalang-ilalang yang tinggi dan tajam menggores kulit-kulit mereka yang halus. Sakitnya goresan ilalang ini tidak ada artinya, dibandingkan sakit yang mereka rasakan sekarang. Tangan-tangan kecil itu terus menyibak setiap helai ilalang yang merintangi langkah mereka. Lari dan teruslah berlari, walaupun detakan jantung ini tidak lagi seirama dengan langkah kakimu, teruslah berlari, hanya itu yang terlintas di otak dan hanya itu yang bisa kita lakukan sekarang.

Negeri ini tidak lagi merdeka, negeri ini sudah kehilangan harga dirinya. Suara-suara mereka, para rakyat-rakyat kecil tidak lagi didengar, bahkan mereka yang ingin menyuarakan kata hatinya malah dibungkam. Mereka dihabisi, mereka dibungkam, di depan para bocah-bocah ingusan yang tidak tahu apa-apa. Kepada siapa akan mengadu, kepada siapa lagi akan bergantung, karena negeri ini tidak lagi berpihak pada rakyat kecil.

Teruslah berlari, berlari dengan sisa-sisa tenaga yang kau punya. Jangan dulu pedulikan belakangmu, lihatlah terus ke depan dan teruslah berlari.

“wahai, semua bocah-bocah pemimpi…”

“teruslah berlari, berlarilah…wujudkan mimpimu secepatnya”

“…aku dengan sisa-sisa tenagaku, aku dengan lirih suaraku, aku ingin kau tahu betapa sulitnya merebut kemerdekaan negeri ini, tapi sekarang negeri ini telah dijual, negeri ini tidak lagi merdeka…”

“wahai, para bocah-bocah ingusan yang bermimpi tentang Utopia…”

“aku beri tahu kau,  bahwa Utopia itu tidak akan pernah ada selama manusia masih hidup…”

“teruslah berlari, berlari dan berlari… ambil setiap ilmu yang bisa kau ambil, kemudian rebut lagi negeri ini, rebut negeri dimana leluhurmu pernah menumpahkan darah untuk merebut harga diri yang bernama kemerdekaan”

“…jangan kau bersedih, jangan kau menangis, tidak perlu…itu tidak perlu. Tugasmu sekarang hanyalah menyiapkan dirimu menjadi Satria-satria yang sakti mandraguna, Satria-satria pilihan langit yang ketika kau melangkah, langkah kakimu akan membuat jantung-jantung para raksasa-raksasa munafik itu berguguran jatuh ke bumi…aku dengan suara lirihku, ingin kau menjadi seperti itu”

“…wahai para bocah-bocah ingusan, kau yang bermimpi tentang masa depan. Kembalilah saat kau siap dan kita merdekakan negeri ini sekali lagi dan kita jadikan negeri dimana Burung Garuda yang perkasa ini menjadi negeri adidaya. Negeri dimana para dewa-dewa pernah berkuasa.”

“ingatlah itu wahai bocah-bocah ingusan…”

Suara-suara itu terus-menerus terngiang di balik tempurung kepala mereka, mereka pun hanya berlari dan berlari. Mereka berjanji akan kembali sebagai para Satria perkasa yang sakti mandraguna. Mereka tidak bermimpi tentang Utopia, mereka hanya ingin kembali merdeka, mereka rakyat kecil, para bocah-bocah ingusan.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s