Penyakit “Autisbro”…

Dahulu kala, saat kita berjauhan hanya surat yang menghubungkan kita. Kabar yang datangnya bisa berbulan-bulan, tapi penuh dengan pegharapan. Seiring lantunan lagu Tante Vina Panduwinata;

“…pak pos membawa berita, dari yang kudamba

Sepucuk surat yang manis, warnanya pun merah hati

Bagai bingkisan pertama, tak sabar kubuka

Satu…dua…dan tiga, kumulai membaca

Surat cintaku yang pertama…”

Pada waktu itu, surat memerankan peranan yang penting dalam berkomunikasi antara satu dengan yang lainnya. Seiring berkembangnya waktu, berkomunikasi jarak jauh diganti dengan menggunakan telepon, tapi fungsi surat masih berimbang dengan penggunaan telepon.

Berjamuranlah wartel-wartel (warung telepon) di berbagai tempat, dan akan sangat ramai kalau malam minggu tiba, ceritanya mau teleponan ama si doi. Tidak bertemu tidak apa-apa, asal masih terdengar suaranya di seberang sana, cieee…., namun akan menjadi rumit apabila yang mengangkat telepon bapaknya si doi.

“halo, selamat malam”

“halo, selamat malam” suara yang terdengar ngebass dan berat, waduh ini bapaknya si doi nih.

Kalau sudah seperti ini, biasanya modus salah sambung pun dimainkan.

“pak Agusnya ada pak” pura-pura nanya pak Agus, padahal udah gemetaran nih.

“Agus?, disini tidak ada yang namanya Agus, adanya Somad”

“wah, kalau begitu salah sambung ya pak, terima kasih” lansung lega dan menutup telepon. Sepertinya hasrat untuk berincang-bincang dengan si doi sudah kumat, karena tidak beberapa lama kemudian, diulangi menelpon nomor yang sama.

“Halo, selamat malam”

“ya, selamat malam” masih yang ngangkat bapaknya si doi, wah gawat nih bro. Terlanjur basah, ya sudah mandi sekali, mungkin itu pepatah yang tepat untuk menggantikan kata nekat.

“Mala-nya ada pak?” lansung ke titik permasalahan menanyakan si doi.

“ini siapa?” nada si bapak mulai meninggi dan bertanya.

“ii…ini, Sati pak, teman kelompoknya Mala, saya mau menyakan tentang tugas sekolah pak” sambil gemetaran.

“Mala sudah tidur, hubungi besok saja …tuuuuuut..tut..tut” telepon lansung ditutup, wah sayang sekali malam mingguan terhalang sama papa mertua.

*****

Teknologi yang terus berkembang dengan berbagai inovasi dan kreasinya, menciptakan alat baru yang bisa untuk menelpon dimana saja, Handphone. Alat yang digunakan untuk menelpon ini, mulai dari sebesar batu bata sampai sekecil kotak korek api. Perlahan-lahan penggunaan wartel pun berkurang, sehingga para pemilik wartel mulai gulung tikar. Surat-menyurat yang biasanya menggunakan kertas, berganti dengan short message service (SMS), sampai-sampai mama yang setiap hari tertangkap di kantor polisi selalu mengirim sms untuk minta pulsa. Berbagai kebiasan dalam menggunakan handphone bermunculan, dari kata-kata yang sesuai standar EYD Bahasa Indonesia dipersingkat dan menjadi bahasa alay. Tapi kebiasaan ini tidak berakibat fatal secara sosial.

Waktu berganti, Handphone pun berganti menjadi Smartphone dan iPhone. Nah, disinilah mulai permasalahan sosial terjadi, dan inilah inti dari cerita kita saat ini. Smartphone atau iPhone yang tidak hanya digunakan untuk menelpon dan mengirim sms, banyak applikasi yang bisa digunakan untuk berbagai macam keperluan. Sungguh canggih memang kemajuan teknologi ini, kalau tidak mengikuti zaman, tentu akan dibilang katrok.

Namun secara tidak lansung, terjadi suatu penyakit sosial disini, berhubung penyakit ini belum ada namanya, maka saya sebut saja “Autisbro” (bahasa saya sendiri; Autis dan bro untuk brother). Penyakit Autisbro ini melanda semua pengguna alat komunikasi yang canggih-canggih ini. Kenapa disebut penyakit, karena gejalanya seperti kecanduan, pusing-pusing, batuk-pilek, badan meriang…eh, kenapa ceritanya melenceng, kalau sakit yang demikian ke dokter saja.

Jadi, Autisbro ini timbul karena kecanduan dengan gadget ini, sehingga melupakan keadaan sekitar terutama interaksi sosial, yang menjadi sorotan utama adalah interaksi sosial. Selama penggunaan gadget ini sesuai dengan tempatnya, tanpa mempengaruhi lingkungan sekitar dan interaksi sosial, berarti anda aman dari penyakit Autisbro ini. Sekarang dimana saja bisa kita lihat, di sekolah, di bus, di tempat-tempat umum lainnya semuanya sibuk mengotak-atik gadgetnya, tanpa peduli dengan yang lain. Saya garis bawahi lagi, selama penggunaan gadget tersebut sesuai dengan tempatnya dan tidak mempengaruhi interaksi sosial, itu tidak apa-apa, tidak digolongkan ke dalam “Autisbro” ini.

Autisbro sangat mengganggu apabila, dalam suatu interaksi sosial, atau situasi dengan banyak orang, si pengidap Autisbro ini malah tetap asyik sendiri. Seolah-olah interaksi sosial tersebut tidak dibutuhkan, karena di dalam gadgetnya sudah banyak jejaring-jejaring sosial yang sudah diinstall. Sungguh sayang sekali, dan berdasarkan pengamatan saya, pengidap Autisbro ini bertambah setiap waktunya.

Saya sendiri pernah mengalami pengalaman yang dikatakan sangat tidak menyenangkan sekali dengan para pengidap Autisbro ini. Waktu itu saya menjadi koordinator suatu latihan (kita anggap saja latihan yang penting), sebagai koordinator tentu saya mengkoordinir setiap anggota. Permasalahan muncul pada saat beberapa orang yang mengidap Autisbro ini, malah asyik bermain gadgetnya, bahkan sudah dipanggil untuk latihan pun, mereka tidak beranjak sama sekali. Sebagai “orang Indonesia” yang sabar dan baik hati, cukup sekali dua kali saya himbau, karena saya tahu Autisbro ini sudah mulai melanda mereka.

Tulisan ini hanya mengingatkan saya dan anda tentang hal sederhana dalam berinteraksi sesama manusia, yaitu saling harga-menghargai antara satu dengan yang lainnya. Jangan biarkan virus-virus Autisbro ini melanda kita. Saya masih ingat sebuah pesan oleh senior-senior saya waktu kuliah di jurusan Biologi, Universitas Andalas dulu, yaitu: “setiap sawah itu harus ada pematangnya, kalau tidak ada pematangnya, maka bukan sawah namanya” (Bahasa Indonsia, Pematang: tanggul, tambak), yang artinya setiap hal yang kita lakukan tentu ada batasannya, ada kotak-kotaknya, dalam berinteraksi antara sesama manusia pun ada batasan-batasanya. Sawah itu pun tidak sama tinggi, begitu juga dengan kita berinteraksi, tentu tidak sama besar, tentu tidak sama kedudukannya, sehingga diperlukan saling harga-menghargai.

Anda ingin dihargai oleh orang lain, tapi anda sendiri tidak menghargai orang lain, malahan Autisbro yang menguasai anda. Bagaimana orang lain akan menghargai anda, itu yang diibaratkan “Sawah itu berpematang”. Ada waktunya kita sendiri dan tidak berinteraksi dengan orang lain, ada juga waktunya kita membutuhkan orang lain. Saya mengingatkan diri saya sendiri dengan tulisan ini, bahwa setiap kita akan tergantung kepada orang lain, jadi secanggih apapun teknologi yang kita miliki, semahal dan se-update apapun teknologi tersebut, kita tidak akan terlepas untuk saling berinteraksi dengan manusia lainnya.

Saran saya untuk diri saya sendiri dan untuk anda jika berkenan, pandai-pandailah membagi waktu, sering-seringlah introspeksi diri, harga-menghargai itu sangat penting, dan jangan sampai orang lain sakit hati karena ulah dan perbuatan kita yang tidak kita sadari, karena telah menjadi kebiasaan atau nama barunya “Autisbro”.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s