Saya adalah Orang “Indonesia”, Bukan “Endonesyah”

Obsesi manusia tentang suatu mesin yang bisa menjelajahi waktu sangat jelas terlihat dari berbagai film tentang imajinasi dan masa depan. Mesin waktu yang bisa membawa kita ke masa depan atau masa lampau. Apakah mesin waktu itu memang ada? atau hanya khayalan belaka, siapa yang tahu, tapi yang jelas, obsesi tentang mesin waktu tersebut timbul karena manusia menyadari betapa pentingnya waktu. Waktu yang terus berjalan tanpa ada masa istirahat sedikit pun, dan tidak akan pernah mau menunggu, tik…tok…tik…tok…tik…tok, setiap detiknya terus berdetak. Waktu yang tidak akan pernah menunggu anda, dan waktu-waktu anda yang terbuang pun tidak akan bisa diganti lagi, jadi manfaatkanlah waktu dan aturlah waktu sedemikian rupa. Sehingga kita tidak menjadi orang-orang yang tertinggal atau terlambat.

Rasanya itu cukup untuk menjadi prolog dari cerita kali ini. Saya ingin bercerita tentang orang Indonesia dan waktu, nah kan!, lansung dalam pikiran anda terlintas “Jam Karet”. Sayang sekali ya!, kenapa hal ini bisa terjadi dan sudah mendarah daging, setiap cerita mengenai orang Indonesia dan waktu, selalu saja begitu.

Jam Karet atau jam yang terbuat dari karet atau jam yang bisa mantul-mantul sendiri seperti karet atau… (titik isi sendiri), yang jelas artinya “suka terlambat”.

Saya tegaskan disini bahwa saya adalah orang “Indonesia” yang tepat waktu dan disiplin, mereka yang jam-jam karet itu, bukanlah orang Indonesia, tapi “Endonesyah”. Saya ingin merubah pola pikir saya sendiri tentang Orang Indonesia dan waktu. Setiap kita yang tepat waktu dan disiplin adalah “orang Indonesia”, dan mereka yang tidak menghargai waktu adalah orang “Endonesyah”. Saya bangga menjadi orang Indonesia, tapi jangan menjelekkan Tanah kelahiran saya dengan cara hidup dan pola pikir anda.

Sebelumnya saya ingin bertanya, apakah anda pernah kecewa dengan sikap orang “Endonesyah” yang jam karet ini?, saya pernah, dan tentu saja anda pernah. Kalau saya boleh mengambil contoh kasus secara umum, jam karet ini tentu saja diawali dengan janji untuk bertemu, kalau istilah kerennya, sudah dijadwalkan sebelumnya.

Awal-awalnya semua menyepakati waktu dan tempat untuk pertemuan selanjutnya, pertemuan yang sangat penting (kita anggap saja begitu). Saya sebagai orang Indonesia yang tepat waktu, datang sekitar 5 menit sebelum waktu yang disepakati.

Pertanyaanya, apa yang saya jumpai?

a. Semua anggota rapat belum ada yang hadir satupun.

b. Hanya meja dan kursi yang kosong.

c. Ada 2 atau 3 Orang Indonesia lain yang tepat waktu dari sekian banyak anggota.

e. Semua jawaban benar

Apakah jawaban anda? E. Semuanya benar? Kalau begitu anda pernah berpengalaman dalam masalah waktu dengan orang “Endonesyah”. Alhasil, pertemuan tersebut dimulai setelah 2 jam berikutnya, saat semua orang “Endonesyah” sudah datang.  Kita anggap ini kasus pertama. Sebagai “orang Indonesia” yang pemaaf dan saling menghargai, tentu saja hal ini masih dimaafkan. “Orang Indonesia” akan berpikir bahwa  mungkin mereka ada urusan lain atau ada hal lain yang mendesak yang membuat mereka datang terlambat.

Namun, tidak hanya satu kali dua kali, tapi hal yang sama terulang lagi dalam pertemuan berikutnya. Jika dikalkulasikan dari beberapa pertemuan, dimana nilai n untuk keterlambatan (n>3), dengan rata-rata waktu dimulainya pertemuan adalah 2 jam, maka kita sebagai “Orang Indonesia” akan berpikir, ada apa sebenarnya?. Kalau mereka yang terlambat selalu saja dihalangi oleh urusan yang mendesak pada hari pertemuan, kenapa sebelumnya mereka menyepakati jadwalnya. Secara logika dapat disimpulkan bahwa, yang salah sebenarnya adalah cara mengatur waktu dan pola pikir “Orang Endonesyah” itu sendiri.

Karena menurut hemat saya, pada awalnya “Orang Endonesyah” juga mengalami kasus yang sama. Pada kasus pertama mereka tepat waktu, tapi mereka terlalu cepat mengambil kesimpulan bahwa, untuk pertemuan selanjutnya tentu saja akan dimulai 2 jam berikutnya. Dalam pikiran “Orang Endonesyah” ini;

“kenapa harus datang tepat waktu, pertemuan akan dimulai 2 jam lagi”.

“yah, saya datang ketika pertemuan sudah dimulai saja”.

“lagian, walau terlambat pun pertemuannya juga belum dimulai”.

“saya rasa yang lain juga bakalan telat”.

jadi, terjadi tular-menular virus “Endonesyah” disini. Sehingga hal inilah yang membuat jelek nama “Indonesia”. Telat kok dibudidayakan, dan disetujui rame-rame lagi.

Contoh kasus lain, pada tiga pertemuan pertama, saya datang tepat waktu walaupun keadaan yang saya temui sama. Pada satu kali pertemuan selanjutnya, saya ada keperluan yang mendesak, dan datangnya pun sedikit telat. Apa hasil yang saya dapati, saya dicap sebagai orang yang suka terlambat, padahal itu baru satu kali dan dengan alasan yang menurut saya jelas. Sungguh aneh sekali bangsa kita ini.

Makanya, saya ingin merubah pola pikir saya, bahwa saya adalah “Orang Indonesia” yang tepat waktu, disiplin dan menghargai orang lain, bukan “Orang Endonesyah” yang sebaliknya.

“halllloooooow…, kemana aja sich Bro.”. (nada lebay gaya ABG sekarang)

“jangan lihat gajah di seberang lautan dong, lihat aja gajah di pelupuk mata sendiri…”

“Gajah punya saya biar nanti diserahin aja ke kebun binatang, loe kasih aja makan gajah loe…”.

Intinya, jangan selalu melihat kesalahan orang lain. Mari bersama-sama kita introspeksi diri, mari sama-sama kita merubah pola pikir kita, bahwa “Orang Indonesia” itu tepat waktu, disiplin dan menghargai orang lain, bukan sebaliknya.

Saat kita semua sudah membudidayakan tepat waktu, disiplin dan menghargai orang lain. Kita akan menjadi Bangsa yang lebih dari yang lain, apakah itu Jepang, Amerika, China dan lainnya. Kita ini bangsa yang besar bro, mari bersama-sama merasa bangga menjadi “Orang Indonesia”. Mari bersama-sama kita mulai menjadi “Orang Indonesia”, bukan “Endonesyah”.

 

3 responses to “Saya adalah Orang “Indonesia”, Bukan “Endonesyah”

  1. betul banget. saya setuju dengan Anda. entah mengapa orang-orang sering kali memberikan excuse pada dirinya sendiri atas keterlambatannya. herannya, mereka ‘menyalahkan’ orang lain yang terlambat datang. mungkin jika kita berada di pihak orang yang menunggu kita bisa memaafkan yang terlambat, namun bagaimana dengan mereka yang menunggu? kita tidak pernah tau apa yang mereka rasakan, entah jengkel atau biasa saja. introspeksi juga sih, karena masih sering terlambat. terima kasih atas postingannya, semoga bisa jadi pembelajaran bersama.

    • Siip, mari sama-sama belajar dan perlahan-lahan mengubah pola pikir dan cara hidup kita, sehingga kita bangga menjadi “Orang Indonesia”, bukan “endonesyah”…hehehe

  2. Pingback: Penyakit “Autisbro”… | Adventure in Rijal's Brain·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s