My Adventure to Sulfur Island (Iwojima), Japan.

Angin membawa kabar dari laut, kabar tentang pulau yang ditumbuhi bambu-bambu, pulau yang bernafas dengan aroma belerang, berwarna putih dan laut di sekitarnya berubah menjadi coklat. Angin yang membawa kabar saat burung-burung laut juga ingin bercerita, namun petualangan tidak selalu diceritakan dengan kabar angin ataupun burung, petualangan adalah suatu kepuasan jiwa. Kepuasan jiwa untuk merasakan dan mengeksplorasi hal-hal baru.

Petualangan kali ini berawal dari pelabuhan lumba-lumba (Dolphin port) kota Kagoshima. Pagi yang cerah untuk menjelajahi hari, saat semua orang sibuk di pelabuhan, berlalu-lalang membawa berbagai macam barang, dan memang hari itu bertepatan dengan pasar kaget gratis (Free Market), kenapa gratis/free? Aneh memang, namun begitulah adanya, karena barang yang dijual disini merupakan barang-barang bekas dengan kualitas yang masih bagus.

Langit yang cerah, sebiru dan sedamai laut yang beriak tenang, dan hari yang cerah untuk berburu ubur-ubur bersama Spongebob squarepants, karena para ubur-ubur berenang ke permukaan pada hari ini, seakan-akan mereka ingin ikut memeriahkan petualangan ini. Kapal-kapal yang merapat berteriak dengan keras, menandakan inilah waktunya untuk berangkat, berangkat untuk memulai petualangan hari ini.

Rijal-Mishima (5)Laut dan Langit yang menyatu dalam biru.

Rijal-Mishima (1)Angin ini akan membawa kita ke gabungan tiga pulau (Mishima); pulau Bambu (Takeshima), Pulau Belerang (Iwojima) dan Pulau Hitam (Kuroshima). Pada dahulu kala, tiga pulau ini saling menyatu satu dengan yang lainnya, akan tetapi gunung berapi yang terletak diantara tiga pulau tersebut mengalami erupsi dan ledakan yang besar, sehingga ketiga pulau itu menjadi terpisah satu dengan yang lainnya, cerita ini hampir sama dengan cerita gunung Krakatau di Indonesia. Sampai saat ini, sisa dari gunung berapi tersebut masih bisa kita lihat di Pulau Iwojima, gunung berapi yang masih aktif yang selalu mengeluarkan asap belerang putih, serta membuat coklat lautan sekitarnya.

Untuk perjalanan kali ini telah diputuskan, kita akan menjelajahi Pulau gunung berapi, Iwojima.

Rijal-Mishima (26)Pulau Belerang, Iwojima.

Tujuan sebenarnya dari perjalanan ini adalah mencari semut Technomyrmex brunneus. Sebelum kita lanjutkan cerita tentang petualangan di Pulau Iwojima, akan kita bahas sedikit tentang semut Technomyrmex brunneus ini. semut ini merupakan semut yang sering kita lihat di rumah, halaman, kebun dan tempat-tempat lainnya, terutama dengan aktivitas manusia yang tinggi. semut yang berukuran kecil, dengan panjang total sekitar 2,5-3 mm. Tubuh berwarna hitam. Semut ini dikelompokkan ke dalam Invasive species, yaitu spesies pendatang yang kehadirannya bisa mengganggu keseimbangan habitat ekologi. Kenapa mengganggu?, karena semut Invasive memliki kemampuan bertahan dan adaptasi yang tinggi, apabila semut ini memasuki suatu daerah baru, maka semut ini akan berkompetisi dengan semut asli pada area tersebut dalam hal sumber makanan, tempat bersarang dan faktor-faktor biologi lainnya. Dalam persaingan ini, biasanya semut asli (native species) akan kalah, tersingkir dan bisa menyebabkan kepunahan pada spesies asli.

Technomyrmex brunneusTechnomyrmex brunneus Forel, 1985.

Technomyrmex brunneus merupakan semut dengan distribusi yang luas, dari Brunei, Sri Lanka, India, Vietnam, China, Taiwan dan Japan. Semut dengan distribusi yang luas ini, terutama Invasive species, penyebaranya dibantu oleh aktivitas manusia. Petualangan di Pulau Iwojima ini, Kita akan memastikan bahwa penyebaran semut ini sudah sampai di Mishima atau belum.

Rijal-Mishima (6)Ferry Mishima yang kami tumpangi, sudah memutar nyanyian tentang pulau dalam bahasa Jepang, Pulau-pulau Mishima yang indah. Itu menandakan bahwa kapal akan berlabuh, tempat berlabuh pertama adalah Pulau Takeshima. Pulau bambu Takeshima, sesuai dengan namanya seluruh area pulau ditumbuhi oleh bambu, masih ingat cerita tentang erupsi gunung berapi di Mishima, erupsi ini nyaris memusnahkan mahluk hidup di pulau ini, dan seiring berjalannya waktu, salah satu tumbuhan yang mampu bertahan adalah bambu ini, makanya seluruh pulau ini ditutupi oleh bambu, Takeshima (Take= Bambu, Shima= Pulau).

Rijal-Mishima (7)Pulau Iwojima adalah tempat peberhentian selanjutnya. Djembe yang ditabuh dengan irama yang ceria menyanyikan lagu selamat datang. Selamat datang bagi para pengunjung dan petualang yang akan berlabuh di pulau ini.

Aroma belerang, laut dan petualangan bercampur menjadi satu. Mari kita mulai petualangan ini. Perlengkapan siap; Pinset, vial berisi alkohol, ayakan + alas putih, sekop, label dan alat tulis. Setelah beberapa saat mendarat, perjalanan lansung dilanjutkan, memasuki bagian tengah pulau dan pencarian pun dimulai.

Rijal-Mishima (8)Pulau Belerang, Iwojima

Rijal-Mishima (9)Setiap lembar serasah (daun-daun kering), setiap dedauanan dan cabang pohon, setiap meter dari lokasi pengamatan diamati. Semut ini seharusnya belum memasuki pulau ini, itulah hipetosa awal untuk saat ini, namun kita tetap harus membuktikan setiap hipotesa. Seandainya semut ini telah tersebar di pulau ini, maka keberadaannya akan mengancam spesies asli, sebagaimana yang disampaikan oleh Fukumoto-san, Leader dari perjalanan kali ini. Keberadaan semut ini di Botanical garden Universitas Kagoshima mengurangi populasi semut asli dari tahun ke tahun. Hal ini juga dibenarkan oleh Prof. Seiki Yamane, Profesor dalam bidang Myrmecology, sekaligus pembimbing kami dalam studi ini.

Rijal-Mishima (15)Sudah beberapa jam melakukan pencarian, namun semut ini belum ditemukan, ini merupakan hasil yang bagus, karena sudah setengah dari area pulau yang telah kami tempuh, dari kebun bunga Camelia (bahasa Jepang; Tsubaki), hutan bambu, padang rumput, padang ilalang, area perumahan dan pelabuhan, sejauh ini masih belum ditemukan semut jenis ini.

Rijal-Mishima (11)Matahari senja sebagai pertanda malam akan datang, memaksa kami untuk menghentikan kegiatan hari ini. Pencarian akan dilanjutkan esok harinya. Penginapan di pulau ini memberikan service yang bagus, dan juga hidangan makan malam yang lezat.

Mishima rijal(Kiri-kanan) : Makan Malam, Udon dari Ketela (Imo), Sarapan Pagi

Semut Technomyrmex brunneus yang belum ditemukan, sampai sejauh ini hipotesa kami masih bisa diterima. Dalam pencarian tadi siang kami juga mengoleksi beberapa jenis semut lainnya, dan setelah makan malam adalah waktu yang tepat untuk mengidentifikasi hasil yang didapatkan. Berbagai jenis telah dikoleksi hari ini; diantaranya Genus Proceratium, Pheidole, Crematogaster, Monomorium, Ochetellus, Camponotus, Pristomyrmex, Tetramorium, Nylanderia, dan Vollenhovia. Hasil yang bagus untuk hari ini.

Rijal-Mishima (16)Esok kesempatan terakhir untuk memastikan kehadiran semut Technomyrmex brunneus ini di Pulau Iwojima. Area targetnya adalah pelabuhan, kami harus kembali mengecek pelabuhan lebih teliti lagi, karena akses untuk sampai ke pulau ini haruslah melewati pelabuhan. Beberapa jam telah dihabiskan, bahkan metoda umpan (Bait Trap) pun digunakan; metoda ini menggunakan keju untuk memancing kedatangan semut pekerja yang sedang mencari makan. Namun belum ada kehadiran semut ini di Pulau Iwojima.

Rijal-Mishima (14)Yosh! Setelah melakukan pencarian yang teliti dan menyisir beberapa lokasi di pulau ini, akhirnya diputuskan bahwa penyebaran semut ini belum sampai di Pulau Iwojima. Dan waktunya untuk kembali pulang.

Angin laut yang mengantarkan perjalanan ini dan angina laut pun yang akan membawa kembali, kembali ke rumah yang nyaman.

Rijal-Mishima (25)

One response to “My Adventure to Sulfur Island (Iwojima), Japan.

  1. Pingback: Japanese Food : “Misoshiru” | Adventure in Rijal's Brain·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s