Suatu Senja di akhir musim Semi

Setiap bunga yang mekar akan jatuh berguguran. Bunga-bunga yang indah penuh warna, namun juga rapuh, dan akhirnya tetap gugur jua. Jangan salahkan angin yang bertiup dengan kencang, jangan salahkan hujan dengan derasnya menghempaskan setiap tetes air ke bumi. Jangan salahkan setiap bunga yang rapuh.

Hening, diam dan menatap dalam bisu, di bangku taman dimana setiap helai kelopak bunga jatuh berguguran, Sati duduk dengan mata yang sayu. Mata yang api semangatnya mulai sedikit memudar, jauh sekali Ia menatap, seakan langit musim gugur masih belum bisa mengukur sejauh apa pandangannya saat ini. Larut dalam pemikirannya sendiri.

Berkali-kali Sati mengganti posisi duduknya, seakan setiap gerakannya merupakan wujud dari gelisahnya hati. Semua ini bermula dari pertanyaan singkat namun cukup dalam maknanya sehingga membuat Sati menjadi seperti ini. Pertanyaan yang sederhana.

”sudah lupakah dengan mimpi-mimpimu? Sepertinya kau terlalu larut dalam kesenanganmu…”

pertanyaan sederhana ini tentu saja sangat menggelitik Sati, ditambah lagi hal ini ditanyakan oleh Mala. Cukup untuk membuat Sati duduk terdiam dan kembali berpikir, berpikir, larut dan perlahan-lahan mulai terlarut dalam pemikirannya sendiri. Semua menjadi lengkap dengan latar daun-daun yang jatuh beterbangan di musim gugur yang menguning.

Dalam duduknya, Ia melamun. Dalam diamnya, Ia berpikir. Mimpi-mimpi?, apakah ia memang betul telah lupa dengan mimpinya? Benarkah ia terlalu larut dalam Kesenangannya? Ataukah Ia hanya beristirahat sebentar untuk kembali bermimpi lagi? Istirahat dari semua kebosanan tentang meraih mimpi. Ataukah mimpi-mimpi itu akan tetap menjadi khayalan? Buah dari tidur yang indah, dimana setiap orang pernah mengalami hal yang sama. Ataukah Ia mencoba mencari alasan-alasan yang logis untuk menjelaskan keadaannya sekarang, atau sebaliknya keadaan itu sendiri yang menjadi alasan baginya menjadi seperti ini. Semakin lama hal ini membuat Sati semakin dalam masuk dan melebur dalam pikirannya, seakan pemikiran itu tak ada batasnya, seakan idealisme itu merupakan sesuatu yang sangat abstrak tanpa bisa diwujudkan menjadi sebuah tindakan yang nyata.

Musik musim gugur yang mencoba memecah kesunyian mulai mengalun pelan dan sayu, entah kenapa sangat tepat sekali menjadi latar dari keadaan ini.

Kembali Sati mencoba mengganti posisi duduknya, tetap saja itu tidak berpengaruh terhadap apa yang Ia pikirkan.

Angin yang mulai bertiup, kembali menerbangkan bunga-bunga yang telah gugur dan menggugurkan bunga-bunga yang rapuh. Angin yang mempermainkan bunga dengan sekehendak-hatinya, bukankah indah kalau bunga itu tetap melekat pada kelopaknya.

“Berhenti…!”

“Berhenti bertiup, biarkan bunga itu disana, jangan kau ganggu…” tanpa sadar Sati berteriak.

Angin tak mendengarkan Sati, memang angin takkan pernah bisa mendengar. Bunga-bunga yang hanya mekar satu kali dalam setahun, gugur berjatuhan dalam sapuan angin, bunga-bunga indah yang selalu ditunggu-tunggu kedatangannya, namun gugur dalam sekejap. Sia-siakah sang bunga?.

Sati yang memandangi bunga-bunga yang berjatuhan, tersadar dari lamunanya. Tidak, itu tidak sia-sia, tidak ada yang sia-sia, semua memiliki arti. Semuanya tidak ada yang sia-sia. Bunga yang jatuh berguguran, itu tidak sia-sia. Itu adalah proses, untuk memasuki tahap selanjutnya. Jangan sesali bunga yang jatuh, tapi lihatlah keindahan setelah itu, buah yang ranum, manis dan harapan sang pohon untuk generasi selanjutnya. Tidak ada yang sia-sia.

“begitu juga aku…”

“Aku tidak melupakan mimpi-mimpiku, aku dalam proses untuk mewujudkannya. Aku tidak lengah, namun sedang memasuki tahap yang baru, seperti bunga-bunga yang berkorban untuk sang buah…”

Tidak ada yang perlu dikuatirkan, janganlah merasa bimbang. Setiap keadaan memiliki maknanya sendiri. Tidak ada yang sia-sia, tidak ada. Sati kembali mengumpulkan semangatnya, kembali menata hatinya, dan kembali menata mimpi-mimpinya pada tahap yang baru. Setiap makna memiliki caranya sendiri untuk sampai ke hati kita, setiap pemikiran menyampaikan arti dengan logikanya sendiri, dan setiap hal yang tidak bisa dicapai oleh logika akan dicerna dalam hati, maka disebutlah dengan keyakinan.

Sati kembali mengganti posisi duduknya, namun sekarang dengan ekspresi yang berbeda. Sementara itu Senja sudah mulai menuntun matahari dengan sinar kemerahannya, Senja yang selalu saja membuat setiap emosi berpadu. Senja yang selalu ada untuk matahari, saat Ia mulai lelah senjalah yang menuntunnya untuk kembali pulang. Dari dulu Sati selalu ingin menjadi matahari, garang ia bersinar, semangat membara sepanjang hari, dan Senja yang setia menunggu untuk kembali pulang.

Senja ini, Ia hanya sendiri. Ia pun berniat untuk pulang walau senja ini tak menuntunnya untuk pulang, namun selalu saja setiap moment memiliki lagunya masing-masing.

Selembut belaian mentari sore,

mempercantik wajah nan ayu,

terbias senyum merah di bibir yang menawan,

sungguh indah pesonamu terasa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s