History of Overkill and Overexploitation by Humans (2)

Sebelum kita lanjutkan membahas tentang sejarah overkill dan overexploitation oleh manusia, sebaiknya kita awali dengan prolog tentang migrasi manusia. Dalam sejarah umat manusia versi sains, disebutkan bahwa nenek moyang manusia pertama kali berasal dari benua Afrika. Sedangkan sejarah umat manusia versi agama Islam, manusia berasal dari Nabi Adam dan Hawa. Ketika Nabi Adam dan Siti Hawa diturunkan dari surga oleh Allah SWT, keduanya terpisah, dan selanjutnya bertemu di Jabal Rahmah, Jeddah, Arab Saudi. Sepertinya informasi yang disampaikan oleh sains tentang asal usul nenek moyang manusia sudah dituliskan dan dijelaskan dalam Alqur’an sebelumnya. Karena nenek moyang umat manusia adalah Nabi Adam dan Siti Hawa, mereka bertemu di Jabal Rahmah dan juga membangun keluarga di sekitar daerah itu, kalau kita melihat kembali peta dunia sekitar 14 juta tahun lalu (periode Tertiary, Miocene Epoch), maka kita akan melihat daratan Saudi Arabia dan benua Afrika masih bersatu. Hal inilah yang membuat saya berkesimpulan seperti itu. Namun dalam hal ini, kita tidak mengetahui secara pasti kapan Nabi Adam dan Siti Hawa diturunkan ke bumi, apakah pada periode Tertiary ini, atau sesudahnya, hal ini merupakan suatu rahasia Allah SWT, yang tidak terjangkau oleh akal dan pikiran kita.

Nenek moyang manusia yang berasal dari Benua Afrika, melakukan migrasi ke setiap penjuru dunia, hal ini disebabkan oleh persediaan makanan yang semakin menipis, karena pada awalnya nenek moyang manusia hidup dengan cara berburu dan mengumpulkan makanan. Apabila pada suatu tempat jumlah makanan ataupun hewan buruan semakin sedikit, maka mereka akan berpindah mencari kawasan baru. Sehingga manusia bermigrasi dalam waktu yang cepat ke berbagai tempat di permukaan bumi jika dibandingkan dengan mahluk lainnya. Proses migrasi ini juga mengalami banyak halangan, seperti musim dingin di daerah temperate, predator, barrier geografis seperti laut, gunung dan sebagainya. Manusia yang dikaruniai akal dan pikiran bisa bertahan dari semua rintangan, musim yang dingin pada daerah temperate diatasi dengan menggunakan kulit hewan sebagai pakaian dan membuat api sebagai penghangat. Serta pembuatan peralatan-peralatan berburu yang memudahkan mereka dalam menangkap hewan buruan yang ukurannya lebih besar dan juga bertahan dari predator-predator yang ganas. Bahkan mereka telah mampu membuat kano-kano untuk menyebrangi lautan. Sehingga manusia semakin mendominasi di bumi, sampai pada saat ini.

Masa berburu dan mengumpulkan makanan (Hunter and Gatherer) ini telah dibahas pada artikel sebelumnya. Saat persediaan makanan semakin menipis, hewan buruan semakin sulit ditemukan, dan tumbuh-tumbuhan menghasilkan buah pada musim-musim tertentu, sehingga cara hidup dengan berburu dan mengumpulkan makanan tidak lagi efektif. Nenek moyang manusia berpikir tentang persediaan makanan yang selalu ada sepanjang waktu, salah satu caranya adalah dengan memelihara hewan liar dan menanam beragam jenis tumbuhan yang dekat dengan tempat tinggal dan bisa dipanen setiap saat. Hal ini dilakukan agar mereka tidak kekurangan persediaan makanan, maka dimulailah masa bercocok tanam (Agriculture) dan Domestikasi.

Overkill dan overexploitation ini telah menyebabkan nenek moyang manusia mengalami kekurangan bahan makanan. Sedangkan untuk bertahan hidup, mahluk hidup harus makan, maka dari sinilah muncul ide-ide untuk melakukan proses domestikasi. Domestikasi adalah suatu proses pengadopsian hewan dan tumbuhan liar dari habitat aslinya ke kehidupan sehari-hari manusia. Pada artikel ini, overkill dan overexploitation tidak dirasakan secara lansung, namun proses ini dengan perlahan-lahan namun pasti mengakibatkan efek yang sama mungkin lebih jika dibandingkan dengan masa hunter-gatherer.

Agar lebih jelasnya, mari kita tinjau terlebih dahulu mengenai sejarah domestikasi hewan dan tumbuhan oleh manusia atau kita menyebutnya dengan masa bercocok tanam (Agriculturalist). Cara hidup dengan bercocok tanam ini telah dipraktekkan pada saat manusia bermigrasi dari satu tempat ke tempat lainnya, yaitu dengan Slash and Burn (memotong dan membakar). Saat manusia telah mengenal cara bercocok tanam, benyak tumbuhan yang telah didomestikasi atau dibudidayakan.

Tabel 1: Domestikasi pada tumbuhan

Agriculture

Pada masa bercocok tanam, tidak hanya tumbuhan yang didomestikasi, tetapi hewan juga didomestikasi. Pada awalnya hewan yang didomestikasi adalah hewan yang hidup secara berkelompok atau bergerombolan. Hewan yang didomestikasi biasanya adalah anak hewan yang hidup yang dipelihara, setelah sang induk mati karena diburu. Proses domestikasi ini tidak hanya mengubah habitat hidup dari suatu jenis hewan, akan tetapi juga mengubah hewan tersebut menjadi lebih gemuk, tidak agresif, dan warna yang lebih terang jika dibandingkan dengan hewan yang hidup liar.

Tabel 2: Domestikasi pada hewan

hewan domestikasi

Domestikasi pada hewan dan tumbuhan menyebabkan beragam akibat bagi spesies itu sendiri, manusia, dan lingkungan. Domestikasi menyebabkan mereduksinya biodiversitas pada mahluk hidup, sehingga mengubah fungsi-fungsi tertentu pada ekosistem. Salah satu contoh domestikasi yang berakibat bagi ekosistem adalah kematian ikan masal di Danau Maninjau, Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Danau Maninjau yang dialih-fungsikan sebagai keramba untuk memelihara ikan, terutama ikan mujair dan ikan mas. Pada waktu-waktu tertentu semua ikan di keramba mengalami kematian masal. Berdasarkan penelitian disebutkan bahwa Danau Maninjau tercemar makanan ikan, yang menyebabkan blooming-nya alga Microcystis atau secara umum disebut dengan Hamrfull Alga Blooming (HAB). Alga ini memiliki racun yang bisa menyebabkan kematian pada ikan. Salah satu efek domestikasi terhadap ekosistem.

Efek negatif domestikasi pada tingkat spesies, yaitu menghasilkan invasive species. Salah satu contohnya adalah ikan mujair (Oreochromis mossambicus). Ikan ini sangat digemari di Indonesia untuk dikembang-biakkan, tapi Ikan ini bukan berasal dari Indonesia, melainkan Ikan ini berasal dari Afrika selatan. Ikan yang didomestikasi ini telah menyebar ke beberapa pelosok dunia untuk dipelihara, diperjual-belikan dan dikonsumsi. Secara ekonomis, tentu saja sangat baik karena memberikan peluang usaha yang besar, namun secara biologis sangat berbahaya bagi ekosistem ataupun spesies lainnya. Ikan yang bukan berasal di Indonesia, apabila diintroduksi ke Indonesia dengan iklim yang sangat mendukung untuk spesies ini akan membahayakan spesies asli Indonesia. Ikan ini bersifat invasive yang bisa menggusur spesies asli dari habitatnya, menggusur di sini berarti bahwa ikan ini akan menguasai sumber makanan dan habitat tertentu, yang populasinya akan terus bertambah karena predator alaminya tidak ada.

Sedangkan efek domestikasi terhadap manusia adalah menyebar dan timbulnya berbagai macam penyakit. Dalam hal ini dapat dilihat pada siklus diagram di bawah.

Siklus penyakit

Gambar 1: Siklus penyebaran penyakit pada manusia, hewan liar dan hewan domestikasi

Emerging Infectious Diseases (EID) atau Penyakit menular yang muncul, pada diagram diatas dapat dilihat cara penyebaran penyakit menular pada manusia, hewan liar dan hewan domestikasi. Penyebaran penyakit menular dari manusia ke hewan domestikasi dengan teknologi dan industry, sedangkan penyebaran EID dari manusia ke hewan liar melalui kontak secara ex situ, manipulasi ekologi dan aktivitas manusia di habitat hewan liar tersebut. Peyakit menular ini juga berpindah di antara manusia.

Penyakit menular (EID) yang menyebar dari hewan liar ke manusia, salah satu contohnya adalah Lyme diseases, yaitu penyakit menular yang sebagai vektornya adalah kutu. Interaksi manusia dengan hewan liar memberikan peluang penyebaran penyakit ini.

Penyakit menular antara hewan domestikasi dan hewan liar adalah Bovine Tuberculosis, yaitu penyakit tuberkulosis dari sapi yang ditularkan pada hewan lainnya termasuk hewan liar.

Escherichia coli O157:H7 merupakan bakteri yang ditularkan oleh hewan domestikasi kepada manusia. Bakteri ini bersifat pathogen kepada manusia dan menyebabkan  beberapa penyakit, seperti; hemorrhagic colitis (HC), hemolytic uremic syndrome (HUS), dan thrombotic thrombocytopenic purpura.

Sedangkan penyakit menular yang bisa menyerang ketiganya, Manusia, hewan domestikasi dan hewan liar adalah penyakit yang disebabkan oleh virus nipah dan rabies. Virus nipah merupakan virus yang berasal dari kelelawar pemakan buah, yang gejala awalnya adalah demam tinggi dan nyeri otot. Virus ini menyebar karena ada kontak lansung dengan host (Kelelawar pemakan buah Genus Pteropus) ataupun carrier host (dalam hal ini adalah Babi).

to be continued…

One response to “History of Overkill and Overexploitation by Humans (2)

  1. Pingback: History of Overkill and Overexploitation by Humans (1) | Adventure in Rijal's Brain·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s