Karya dan sebuah apresiasi

Seorang pemuda yang baru belajar melukis ingin memberikan sebuah hadiah dalam rangka ulang tahun sahabatnya. Sang pemuda ingin memberikan sesuatu yang spesial, sebuah hadiah hasil buatannya sendiri, dan tentu saja itu adalah lukisan, karena hanya itu keahlian yang dirasanya spesial.

Mulailah Ia mempersiapkan setiap alat dan bahan yang dibutuhkan. Ia juga mencari sebuah foto milik sahabatnya di file-file komputernya, akhirnya Ia memutuskan sebuah foto yang dimana ekspresi sahabatnya terlihat sangat natural dan tidak berlebihan, sangat cocok sekali untuk dilukiskan dalam kanvasnya.

Dalam kamar yang tidak terlalu besar, dimana sebuah kanvas yang kosong menunggu goresan setiap warna. Perlahan-lahan sang pemuda mulai membuat sketsa wajah sahabatnya itu, sangat hati-hati, Ia ingin ekspresi yang terdapat dalam foto tersebut terlukiskan dalam karyanya. Setelah selesai, Ia kemudian mengamati dan menilai hasil karyanya, ternyata masih jauh dari yang diharapkan. Karena merasa belum puas, Ia kemudian mengulang lagi untuk membuat sketsa wajah sahabatnya di atas kanvas yang baru. saat Ia merasa puas dengan hasil kerjanyanya, barulah Ia melanjutkan ke dalam tahap selanjutnya.

Goresan setiap warna dalam kanvas mengandung makna tersendiri, karena dalam setiap goresannya akan menghasilkan warna yang sama dengan yang dirasakan oleh sang pelukis. Juga perpaduan setiap warna sangat menentukan, salah dalam memadukan warna yang berbeda, maka ekspresi yang dihasilkan pun akan berbeda.

Sang pemuda mulai memadukan setiap warna yang dibutuhkan, setiap warna untuk setiap ekspresi, teliti dan hati-hati, kuasnya mulai menari di atas kanvas. Ia melukis bagaikan menari, lentur dan tegas goresan-goresan warna yang tercipta. Setiap warna-warna mulai berpadu, wujud dari garis-garis wajah mulai tampak, dalam benak sang pemuda sudah terbayangkan hasil akhir dari karyanya. Setiap detailnya, Ia kerjakan dengan sangat hati-hati. Saat Ia merasa lelah, Ia beristirahat dan dilanjutkan kembali esoknya, karena Ia tidak ingin karyanya rusak oleh secuil kecerobohan saat Ia kelelahan.

Setiap harinya, Ia begitu giat dan telaten dalam pekerjaannya, sebuah hadiah istimewa tentu saja membutuhkan usaha yang ekstra juga, begitu yang Ia pikirkan. Tanpa terasa waktu demi waktu berlalu dan terlewati, tanpa terasa telah berhari-hari ia mengerjakan lukisan istimewa itu. Saat goresan cat terakhir selesai disapukan di atas permukaan kanvasnya, senyuman melengkung di bibir sang pemuda, Ia sangat puas saat melihat hasil karyanya. Sebuah perjuangan yang panjang untuk sebuah kado istimewa.

Lukisan itu kemudian Ia bungkus dengan sangat rapi, tidak lupa sebuah ucapan diselipkan. Ia merasa bangga akan hasil kerjanya, tidak sabar Ia untuk melihat ekspresi sahabatnya saat melihat lukisan ini.

Esoknya, sang pemuda membawa lukisan yang telah terbungkus dengan rapi itu ke rumah sahabatnya. Telah banyak rekan-rekannya yang datang, dan juga membawa berbagai macam hadiah. Tidak lama kemudian acara pun dimulai, sebelumnya semua undangan mengucapkan selamat kepada tuan rumah. Semua undangan bergiliran memberikan hadiah mereka, termasuk sang pemuda, pada saat memberikan hadiah sang pemuda sangat senang sekali, karena sahabatnya menerima dengan begitu sukacita hadiah darinya, seakan penat saat melukis hilang ketika melihat senyum bahagia sang sahabat.

Acara pun berlanjut, diawali sambutan dari tuan rumah, sampai kepada acara puncak, dimana tuan rumah mempersilahkan para undangan untuk menikmati hidangan. Sang pemuda yang senang karena hadiahnya telah diterima oleh sang sahabat juga ikut larut dalam kebahagiaan itu.

***

Beberapa minggu kemudian, sang pemuda datang bermain ke rumah sahabatnya. Dari luar pekarangan rumah terlihat sang sahabat sedang memperbaiki motornya. Sang pemuda menyapa sahabatnya, dan selanjutnya ikut bergabung di samping sahabatnya, walaupun ia tidak memiliki pengetahuan tentang permesinan, tapi ia tetap ingin membantu sahabatnya.

Ia membantu sahabatnya, walaupun hanya mencarikan kunci atau obeng buat sang sahabat. Beberapa saat kemudian, sang sahabat minta tolong kepada sang pemuda untuk mengambilkan suku cadang motornya di dalam gudang. Karena ingin membantu sahabatnya, maka pergilah sang pemuda ke gudang untuk mengambil suku cadang motor yang dimaksud oleh sahabatnya.

Sesampainya di gudang, sang pemuda pun mencari-cari kardus tempat suku cadang yang dimaksud. Namun, di dalam gudang tersebut, samar-samar ia melihat sebuah benda yang berbentuk lukisan terbengkalai di sudut gudang. Awalnya sang pemuda tidak berniat untuk melihatnya, namun kemudian rasa penasaran terus mengelitiknya. Sang pemuda berjalan ke arah lukisan tersebut, pelan-pelan Ia angkat lukisan itu dan dibersihkannya, sudah banyak debu yang bergelantungan di lukisan tersebut, sehingga lukisan itu tidak bisa lansung dilihat.

Betapa terkejutnya sang pemuda, bahwa lukisan itu adalah hadiah yang telah ia berikan untuk sahabatnya. Bagaikan mendengar guntur halilintar di siang hari yang cerah tanpa awan, sangat terkejut sang pemuda, lukisan yang susah payah Ia buat sebagai hadiah untuk sahabatnya, ternyata berakhir di dalam gudang. Walaupun harga lukisan itu tidak terlalu mahal, tapi segenap perasaan dan emosi telah Ia tuangkan dalam lukisan itu. Ia mengambil lukisan itu dan berjalan cepat keluar dari gudang dan lansung pulang ke rumahnya tanpa menoleh atau berpamitan kepada sahabat. Karena Ia merasakan betapa sakitnya seuah karya tidak dihargai, karya yang dibuatnya dengan segenap emosi, Ia tidak berharap banyak, walaupun lukisan itu tidak dipajang di ruang tamu atau kamar, tapi janganlah terbengkalai di dalam gudang.

Tidak dapat berkata apa-apa, hanya diam, saat semua emosinya kembali ditumpahkan dalam lukisan yang sama.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s