Filosofi kehidupan dalam Ilmu Silat

Dalam ilmu bela diri, tersebar sebuah rahasia umum yang diketahui oleh khalayak ramai, bahwa guru bela diri tidak mengajarkan semua ilmunya pada sang murid. Misalnya, sang Guru memiliki 10 ilmu, maka yang diajarkan kepada murid hanya 9 dari 10 ilmunya. Setiap orang beranggapan bahwa, apabila guru memberikan semua ilmunya pada sang murid, apabila suatu saat sang murid balik melawan Guru, tentu saja guru akan kalah. Namun, apabila guru hanya memberikan 9 ilmu pada muridnya, maka ketika sang murid balik melawan guru, guru masih bisa menang dengan satu ilmu rahasia yang tersisa.

Semua orang beranggapan bahwa dalam ilmu bela diri inilah yang terjadi. Dapat dibayangkan bahwa apabila nantinya, murid yang mengusai 9 ilmu menjadi guru, dan selanjutnya Ia hanya akan mengajarkan 8 dari ilmu yang dimiliki, dan akan terus berlanjut seperti itu, sampai murid selanjutnya hanya mendapatkan sebagian saja dari ilmu silat yang sebenarnya. Ibarat ekor tikus, di bagian pangkalnya besar, namun semakin ke ujung akan semakin mengecil.

Awalnya, saya sependapat dengan anggapan ini, karena semua orang ingin menjadi yang terbaik dan nomor satu. Begitu juga bagi guru, tentu saja Ia tidak ingin ilmunya dikalahkan oleh muridnya sendiri. seperti halnya kasus ketika sang murid berbalik menantang sang guru, tentu saja guru harus mempunyai senjata rahasia atau ilmu pamungkas terakhir, karena walaupun guru sangat mengagumi muridnya, bisa saja sang murid berpendapat lain terhadap gurunya, siapa yang bisa mengerti kedalaman hati dan pikiran seseorang.

Namun, semua anggapan itu ternyata tidak seburuk yang kita pikirkan. Mungkin awalnya kita akan berpikiran negatif kepada sang guru, kenapa begitu pelit terhadap ilmunya, bukankah ilmu itu semakin diamalkan dan diajarkan, maka juga akan semakin bertambah. sebenarnya guru silat, tidak hanya mengajarkan ilmu silat saja kepada sang murid, tapi juga mengjarkan ilmu tentang kehidupan.

Lebih jelasnya, Guru silat tidak hanya mengajarkan langkah-langkah, atau jurus-jurus saja, tapi di dalamnya guru silat juga mengajarkan tentang kehidupan kepada sang murid. Apabila guru silat hanya memberikan semua ilmunya kepada sang murid, tentu hasilnya sang murid hanya akan menerima dari sang guru, maka dihasilkan pendekar-pendekar yang manja yang hanya menerima  tanpa ada usaha untuk berkreasi. Dengan memberikan ilmunya sebagian kepada murid, maka sang guru mengajarkan kepada murid bahwa silahkan berkreasi dengan ilmu yang dimiliki, maka dihasilkan pendekar-pendekar yang kreatif. Atau dengan ilmu yang sebagian dari sang guru, maka sang murid akan mencari ilmu yang lain sehingga ilmu yang dimilikinya pun menjadi sempurna.

Jika kita refleksikan ke dalam kehidupan saat sekarang ini, sangat jelas terlihat, generasi yang manja dan hanya menerima saja, maka generasi itu tidak akan bertahan lama. Generasi yang dibutuhkan pada  era ini adalah generasi yang kreatif dan inovatif. Generasi yang tidak manja dan bisa hidup mandiri. Generasi yang mau untuk terus belajar dan berkreasi, walaupun guru hanya memberikan ilmunya sebagian, bukan berarti peluang untuk mendapatkan ilmu tersebut akan tertutup, masih banyak lagi sumber ilmu yang bisa didapatkan.

Alam takambang jadi guru, sebuah pepatah minang, berarti bahwa kita harus bersikap dinamis dan selalu belajar dari alam. Seperti ilmu silat yang pada awalnya merupakan ilmu bela diri yang terinspirasi dari alam, gerakan harimau, tingkah kera, liukan ular dan sebagainya. Seorang pesilat atu pendekar yang kreatif tidak hanya menerima dari gurunya saja, namun juga belajar dari sumber-sumber yang lain, gurunya hanya menunjukkan jalan atau cara untuk menjadi seorang pendekar. Begitu juga hendaknya kita dalam kehidupan saat ini, jangan hanya manjadi cangkir yang selalu menerima dari cerek, tapi kita juga harus “manakiak nan kareh, manjampuik nan jauah” (artinya; menusuk di tempat yang keras dan menjemput di tempat yang jauh), maksudnya adalah supaya kita belajar dengan rajin dan sungguh-sungguh walaupun itu terasa sangat berat.

Pepatah lainnya “ka lauik riak maampeh, ka pulau riak mamutuih, kalau mangauik iyo bana kameh, kalau mancancang iyo bana putuih” (artinya; kalau pergi ke laut riak yang menghempas, kalau pergi ke pulau riak yang memisahkan, kalau mengumpulkan sesuatu jangan ada yang tersisa dan kalau memotong sesuatu harus sampai putus), maksudnya adalah dalam menuntut ilmu atau melakukan sesuatu janganlah setengah-setengah, harus tuntas. Sehingga apa yang dikerjakan atau dipelajari dapat terselesaikan dengan baik.

Ilmu silat yang direfleksikan dalam kehidupan, mengajarkan kita tentang bersungguh-sungguh, jangan setengah-setengah, harus tuntas dalam melakukan setiap pekerjaan. Jangan hanya menerima saja, namun kita harus berusaha dan berkreasi, sehingga setiap kita menjadi lebih baik lagi.

Mari bersama belajar dan berjuang untuk masa depan yang lebih baik!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s