Cerita Mala di Sore Itu

Hari itu, sepulang dari tempat bekerja, terasa sedikit berat bagi Mala. Dengan sepeda merah kesanyangan, Mala melaju di lembutnya gerimis sore itu. Dalam pikirannya terasa penat dan membosankan pada suasana tempat ia bekerja, perasaanya penuh dengan amarah dan kecewa pada rekan kerja baru yang diharapkan dapat menjadi rekan kerja yang baik baginya. Berharap gerimis dapat melenyapkan kecewa, Mala mengayuh pelan sepedanya. Ia rasakan lembut belaian gerimis sore itu, perlahan Mala melebarkan tangan kirinya untuk ikut merasakan lembutnya gerimis di telapak tangannya, sesekali ia memejamkan matanya  dan menarik nafas dalam agar kembali dapat menenangkan hati.

Sesampainya dirumah, sambil mengeringkan pakaiannya yang kuyup, Mala setengah berbaring pada sofa orange ruang tamunya. Pandanganya masih tertuju pada hujan di luar, terlihat jelas melalui pintu yang terbuka. Hujan makin lebat terasa, pikiranya masih tertuju pada tempat kerja. Icha, kakak Mala menghampiri, lalu mereka berdua pun berbagi cerita. Di tengah serunya bercerita, tiba-tiba datang seorang ibu tua bersepeda singgah di rumah mereka, dari pintu rumah yang terbuka Ibu tersebut menghampiri.

“Nak, sini nak…”. Sapa sang ibu sambil melihat isi keranjang yang dibawanya.

“Ada apa buk…?”. Jawab Icha melangkah menuju sang ibu tersebut.

“Ini nak, ibu Ada kue lapis, harganya 2000 rupiah sebungkus, di beli ya nak…”. Pinta sang Ibu setengah memaksa.

Dalam hatinya berkata perutnya masih terasa kenyang.  Namun, melihat sang Ibu kedinginan dan basah dengan bersepeda, Icha pun merasa iba.

“Sebentar ya buk…” Icha lekas mengambil uang ke dalam kamar.

“Iya nak…”.

Mala yang masih duduk di sofa, menatap sang ibu dalam. Berbanding terbalik dengan sang kakak, dalam pikiranya yang masih kalut itu, ia mencoba menelisik sedikit curiga pada ibu penjaja kue lapis yang sedang menatap hujan. Dunia yang cukup kompleks dengan masalah ini, dimana-mana orang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan uang.  Apa iya, sebungkus kue yang berisi tiga buah potongan  kue lapis yang berukuran sedikit lebih besar dari standar  itu hanya seharga 2000 rupiah. “Murah sekali” tandasnya dalam hati. Rupanya tontonan telesvisi yang akhir-akhir ini tentang bebagai makanan yang diberi bahan kimia berbahaya oleh pedagang nakal di kota-kota besar telah mempengaruhi pikiran Mala, ditambah perasaan yang sedang kecewa dengan rekan kerjanya di kantor yang ikut mempengaruhi pikiran-pikiran negatif Mala.

“Ini buk saya beli dua bungkus”. Icha dengan cepat menghampiri sang ibu sambil memberi selembar uang 10.000 berwarna ungu dengan gambar pahlawan Sultan Badarudin.

“Baik nak” Ibu mengambil dua bungkus kue lapis dalam keranjang seraya mengambil uang kembalian dari saku kecilnya.

“Tidak usah bu, ambil saja kembalianya untuk ibu”. Ucap Icha dengan senyuman lembut.

Sang ibu mengerutkan kening, tidak terima. “Tidak nak ini ambil kembalianya, nanti uangnya tidak berkah bagi saya”.

Mala terhenyak dengan jawaban sang ibu, ia tidak mengira sang ibu akan menjawab seperti itu. Seketika itu jawaban sang ibu bagaikan sebuah palu godam yang menghatam dan menghancurkan pikiran-pikiran negatif dalam benaknya.

“Tidak apa bu, kuenya banyak isinya ini, ambil saja untuk ibu…”. Icha memegang pelan tangan si Ibu, menolak dengan lembut kembalian yang disodorkanya.

“Ya sudah, yang seribu saya ambil, lima ribu-nya saya kembalikan  ya nak, saya tidak mau menaruh harga tinggi pada kue ini, nanti tidak berkah uang saya”. Sang ibu mempertegas penolakkanya, diiringi dengan senyuman letihnya.

Merasa kalah dengan penolakan sang ibu, Icha mengikhlaskanya. “Ya Sudah bu..terimakasih ya”.

“Saya yang berterimakasih nak, sudah mau beli kue saya, mari nak…”. Salam sang ibu sambil menaiki sepedanya tuk kembali pergi.

Icha memasuki rumah sambil memegangi kue sang ibu. Melihat itu, Mala merasa malu atas penilaianya terhadap sang ibu, ia melihat sakunya. Lalu, dengan segera ia mengejar sang ibu, yang sudah berlalu dengan sepedanya di tengah cuaca gelap mendung dan rintik gerimis.

“Buk, buk… .“. Sambil menggapai-gapai keranjang sepeda sang ibu.

“Iya nak…”. Sang ibu berhenti dan menoleh ke arah Mala.

“Maaf ibuk” Mala menarik nafas dalam lalu melanjutkanya. “Ini ada sedikit rezeki saya untuk ibu”.

Ibu kembali mengerutkan keningnya melihat selembar uang yang diberikan oleh Mala. “Eh! jangan nak…”.

“Tidak apa bu… tambahan untuk beli perlengkapan…saya ikhlas kok… mohon diterima ya bu”. Pinta Mala.

Kini ibu yang menarik nafas dalam… Mengambil kue yang tersisa dari keranjang sepedanya. “Kalau begitu, ini ambil kuenya sisa satu lagi nak”.

Mala lega, sang ibu mau menerimanya. “Baiklah bu…” Senyum merekah dari bibirnya.

“Terimakasih ya nak…”

“Sama-sama ya buk…”

Keduanya tersenyum dan berlalu berbalik arah. Tiba-tiba Mala terdiam kembali melihat sang ibu yang bersepeda, lalu sambil menatap awan di tengah gerimis sore itu. Mala berkata dalam hati. “Ya Rabb, begitu mulianya hati ibu itu, lindungi ia dalam perjalananya…ampuni aku atas pikiranku terhadapnya. Syukurku pada-Mu atas segala yang telah kumiliki, lembutkan hatiku jauhkan pikiran-pikiran yang tak layak kupikirkan… amiin.. Alhamdulillah….”

Saat kembali melangkah Mala teringat pesan Sati di tanah seberang  yang selalu mengingatkanya agar selalu tetap bersyukur, berpikir postif dan tidak terlalu cepat mengambil keputusan pada suatu pandangan. Mala kembali tersenyum mengingatnya… seketika ia melupakan kecewa dan penatnya di tempat kerja, lalu berulang kali berucap syukur dalam hati… “Alhamdulillah…terimakasih Ya Allah…”.

Mala memasuki pintu rumah dengan hati senang, Icha tersenyum melihat tingkah Mala.

Ditemani segelas teh hangat dan kue lapis. Mala kembali menikmati dinginya sore gerimis… “Subhanallah… ternyata kuenya enak sekali…”gumamnya dalam hati.  Tak lama telpon genggamnya berdering, ternyata Sati menyapanya lewat pesan singkat… Hatinya bertambah senang sore itu (VZ).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s