Lucky, Accidentally or Destiny

Tik…tok…tik…tok…pejamkan mata, kembali berpikir, setelah itu mari sama-sama bersyukur. kita ulangi lagi, kembali berpikir, lihat di sekitar kita, setelah itu mari kembali bersyukur atas apa yang kita miliki. Lihat saya, apa yang saya pakai, baju sederhana yang tidak terlalu bagus, namun rapi dan bersih. Apa yang saya makan, Cuma nasi dengan lauk ikan kecil, saus sambal dan sebuah timun sebagai sayur. Bukan makan dengan steak mewah, dengan gaya perancis, atau ayam goreng siap saji dengan gaya Amerika. Lihat rumah saya, kecil dengan dinding dari kayu, tapi cukup kokoh melindungi sebuah keluarga dengan lima orang anggotanya. Bahkan lebih cukup untuk bertahan dari garangnya matahari, atau cambukan halilintar di kala hujan, atau hujan yang sering mengamuk bersama angin yang sering bersifat kasar. Saya merasakan nikmatnya hidup dengan itu semua, sederhana memang, tapi kami tetap bahagia, masih bisa tertawa seperti orang kaya tertawa, masih bisa bernyanyi seperti artis-artis terkenal, walau fals, tapi bukankah inti dari sebuah lagu adalah menghibur, seperti apapun suaranya, apabila masih menghibur, tetap menyenangkan bukan. Dan saya juga bernafas seperti para presiden di dunia, oleh karena itu, saya sangat bersyukur dengan apa yang saya miliki sekarang.

Itulah yang barusan saya pikirkan, bagaimana dengan anda? Apa yang telah anda pikirkan?. Mungkin anda akan berpikir berbeda dengan saya, tentu saja, kita memiliki prinsip hidup yang berbeda. Wajar adanya kalau kita berpikir dengan cara yang berbeda, karena kita masing-masing dianugrahi akal dan pikiran.

Mari kita lanjutkan berpikir, tentang bagaimana….?

Saya dilahirkan di Indonesia, dalam keluarga yang bersahaja, yang membentuk semua karakter yang saya punyai saat ini. tapi bagaimana kalau saya dilahirkan di Jepang, dengan kebudayaannya, dengan semua yang dimilikinya sekarang, akan jadi apakah saya gerangan?. Mungkin kalau dilahirkan di Jepang sebagai Negara maju, mungkin akan lebih baik. Tapi bagaimana kalau saya dilahirkan di Negara miskin, yang sumber daya alamnya tidak kaya, selalu mengalami perperangan, saya tidak bisa melanjutkan kuliah, saya kehilangan orang tua di waktu kecil, dan harus bisa bertahan hidup sendiri. Akan jadi seperti apa saya saat ini.

Bagaimana kalau saya dilahirkan di sebuah pulau terpencil yang tidak pernah dijamah oleh teknologi, tidak mengerti tentang persoalan dunia luar, hanya hidup bertahan dari alam. Bagaimana sewaktu saya lahir saya tidak memiliki salah satu anggota tubuh. Terus bagaimana…, bagaimana… dan bagaimana kalau selanjutnya begini…begitu.

Saya dilahirkan di sini, di tengah kenhangatan sebuah keluarga, apakah ini sebuah keberuntungan, atau sebuah kebetulan atau inilah takdir saya. Begitu juga dengan saat ini, saya dengan semua kenikmatan yang saya rasakan sekarang, apakah juga karena keberuntungan, kebetulan atau inilah takdir.

Saat saya melihat diri saya, betapa banyaknya kekurangan yang saya miliki, karena banyak orang lain lebih hebat dan lebih beruntung dari saya. Namun ketika saya melihat ke arah sebaliknya, saya melihat betapa beruntungnya saya, saat orang lain tidak sekolah, tidak makan, tidak merasakan semua kenikmatan yang saya rasakan.

Saat melihat mereka yang lebih beruntung dari saya, kenapa saya tidak dilahirkan menjadi salah satu dari mereka. Tapi ketika saya melihat sebaliknya, saya tidak ingin dilahirkan menjadi seperti mereka. Apakah itu sikap yang positif?. Apakah mereka dengan kondisi yang tidak seberuntung saya, dilahirkan di sana secara kebetulan atau takdir. Tapi apakah saya, anda ataupun mereka memilih dan menentukan sendiri dimana kita dilahirkan. Apakah kita yang menentukan dimana kita ingin dilahirkan. Jawabannya Tidak, bukan kita yang menentukan, bukan kita yang memilih, tapi terdapat kekuasaan Yang Maha Sempurna yang mengatur itu semua. Keuatan yang di luar nalar manusia, kekuatan yang menciptakan semua kehidupan di dunia ini, itulah kekuatan Tuhan, Allah SWT.

Saya menjadi berpikir lagi tentang apa yang saya miliki sekarang, betapa bahagianya saya dengan keadaan saya sekarang. Betapa nikmatnya merasakan arti hidup, betapa nikmatnya hidup dengan getirnya perjuangan, betapa hebatnya saya dilahirkan seperti ini. oleh karena itu hanya syukurlah di penghujung pemikiran ini. karena betapa besarnya nikmat yang kita nikmati, dan betapa bahagianya menjadi kita saat ini, saya bersyukur saya hidup dan merasakan kehidupan ini, dan menjalaninya untuk menjadi lebih baik, saya bersyukur untuk itu semua.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s