Peri Salju

Aroma teh yang sudah diseduh sangat khas tercium, asap panas yang mengepul dari segelas teh pun menemani siang ini, di musim dingin ini. cuaca hari ini kurang bersahabat, angin dingin terus bertiup, membuat tubuh yang rapuh ini menggigil. Suhu di kota ini terus turun dari 80C, begitulah yang kudengar dari berita di televisi dan berkemungkinan akan turun salju. Kalau dibandingkan dengan kota bagian utara, memang disini tidak terlalu dingin, katanya di kota bagian utara sudah turun salju.

Aku yang menggigil kedinginan sedang menunggu bus untuk pergi ke kampus. Aku berdiri sambil memegangi segelas teh yang tadi kubeli dari mesin “M-cup”, mesin minuman yang bisa ditemukan di setiap sudut kota ini. Tempat pemberhentian bus ini sangat sepi hari ini, apakah karena suhu dingin ini. Hanya aku sendiri di sini. kukencangkan lagi balutan syal warna biru yang kupakai, walaupun aku sudah terbungkus rapat oleh jaket dan balutan syal, tapi udara dingin ini masih menggelitik kulitku.

Udara dingin ini tidak akan mengalahkanku hari ini, walau terasa semakin dingin, aku akan tetap bertahan. Tidak akan semudah itu mengalahkan seorang laki-laki yang penuh semangat, yang selangkah demi selangkah Ia mencoba untuk mendapatkan sebanyak-banyaknya persiapan dalam menggapai tujuannya, sebuah mimpi yang didambakan setiap orang.

Tiba-tiba aku dikejutkan oleh suara langkah kaki seseorang yang menggunakan Okobo, sangat pelan dan hati-hati, tapi setiap benturannya dengan jalanan terdengar dengan jelas sekali. Samar-samar dari kejauhan terlihat seorang gadis yang memakai kimono, kimono berwarna putih, terlihat anggun dari caranya berjalan, pelan dan penuh kelembutan. Semakin dekat, maka semakin jelas gambaran wajahnya. Ia tersenyum kepadaku dan mengangguk menyapa, ketika ia tersenyum mata sipitnya menjadi sebuah garis, garis-garis yang indah dilukiskan dalam putihnya kanvas wajah. Pipinya bagaikan lekukan rembulan yang dipahat indah oleh Sang Pencipta. Ramah Ia menyapa dan kemudian berdiri di sebelahku, mungkinkah Ia juga menunggu bus yang sama.

Aku hanya diam terpaku, kulihat Ia memakai kimono yang sangat indah, sangat serasi dengannya, sangat anggun Ia terlihat dengan Kimono berhiaskan bunga Chrysanthemum warna putih, dan rambut yang disanggul khas wanita di jepang lengkap dengan hiasan dan aksesoris warna putihnya. Kulirik kembali gadis itu, dengan senyum yang paling ramah aku coba untuk menyapa.

“hari ini sangat dingin ya?” aku memulai obrolan ini.

Dia tersenyum, senyum yang mempesona, senyum yang membuat indah bunga Chrysanthemum yang dipakainya. Bunga Chrysanthemum seperti bersinar dan dipantulkan dalam lembutnya sebuah senyuman.

“ya, hari ini dingin sekali, sepertinya akan turun salju” aku kembali berkata, dan berharap ini akan menjadi obrolan yang menyenangkan.

Namun wanita itu hanya tersenyum.

Kekakuan musim dingin sangat terasa di sini, suasana yang terasa sedikit kaku dimana Aku dan Dia hanya terdiam membisu. Aku berpikir tentang bahan obrolan menarik lainnya sehingga suasana kaku ini bisa melebur dan mencair. Sambil berpikir, aku melirik kembali wanita itu, kulihat dari arah samping, betapa indahnya Ia, kehadirannya bagaikan indahnya salju dalam terpaan mentari yang bersinar, setiap cahanya akan berpantulan pada setiap butir-butir salju.

“apakah kamu suka salju?” aku kembali mencoba memulai percakapan.

“ya, aku sangat menyukai salju” Jawabnya dengan lenkungan senyum tipis.

“Aku sangat ingin melihat salju, aku belum pernah melihat salju” ucapku.

Kembali Ia tersenyum, senyuman yang membuat matanya menjadi satu garis melengkung.

Usahaku untuk mengobrol dengannya berhasil jua, Kami terus mengobrol, dari obrolan tentang salju, obrolan tentang musim dingin, tapi dia lebih suka bercerita tentang pengalamannya dengan salju, dia sangat bersemangat menceritakannya, bahkan sampai mebuat dia memperagakan bagaimana di mencoba terbang di kala hujan salju, dengan membentangkan kedua tanganya. Seperti yang ia katakan ia sangat menyukai salju, bahkan sangat senang untuk kembali menceritakan pengalamannya di musim dingin yang lalu.

Cerita Wanita itu mendadak terhenti seiring terdengarnya suara klakson bus. Bus yang ditunggu dari tadi telah datang. Setelah berhenti, pintu bus terbuka dan terlihat sang sopir tersenyum ramah. Aku mulai melangkah, akan tetapi gadis tadi hanya diam, dia masih tetap berdiri dan tidak beranjak.

“ayo kita naik, aku masih ingin mendengarkan ceritamu tentang salju” aku berharap.

“tidak, aku akan naik bus yang lain” dia menjawab sambil menundukkan kepala.

“Apa yang terjadi?” pikirku, apakah aku telah melakukan kesalahan yang membuatnya tersinggung, aku mencoba kembali berpikir ulang.

“aku minta maaf kalau ada salah, tapi aku sudah telat, oh ya namaku Sati, siapa namamu?” aku meminta maaf, apabila gadis itu tersinggung dengan sikapku, dan sambil menjulurkan tangan untuk bersalaman, aku memperkenalkan diri.

“tidak, hmmm…namaku Yuki, senang mengobrol denganmu, daah”

Ketika berjabat tangan, tangan gadis itu terasa sangat dingin, apakah dia kedinginan? Tentu tidak baik untuknya di udara dingin ini. aku membuka gulungan syalku dan memberikannya  pada wanita itu, dia menolak, tapi aku telah naik ke atas bus dan pintu bus pun telah tertutup. Sambil melambaikan tangan gadis yang bernama Yuki itu tersenyum, senyum yang mempesona dan bahagia, senyum yang membuat matanya menjadi satu garis tipis. Bus pun perlahan menjauh, tapi kulihat Dia masih tetap melambaikan tangan sambil memakai syal yang kuberikan.

Sangat menyenangkan bisa mengobrol dengannya, ia sangat suka sekali dengan salju. Aku pun duduk bersandar, dan penasaran. Saat aku kembali melihat ke halte bis yang masih jelas di belakangku, ah! Kemana Yuki, kemana gadis yang memakai kimono putih itu, kemana Dia?. Aku sangat kaget, aku tak melihatnya lagi, sangat mustahil dia bergerak dan menghilang secepat itu.

Aku masih penasaran, kemana Dia pergi, padahal jalanan itu tidak ramai, mungkin hanya bus ini saja yang melintas. Ah! Aku baru menyadari pakaian dan semua aksesoris yang dikenakan oleh perempuan ini berwarna putih, sama seperti cerita dongeng rakyat jepang di musim salju, yaitu Yuki-Onna (雪女).  Tapi, kalau Wanita itu memang Yuki-Onna, tidak sekejam dan seseram yang dikisahkan dalam dongeng yang kubaca. Aku tidak akan menyebutnya Yuki-onna, karena Ia sangat berbeda dengan cerita dalam dongeng, lebih tepat kalau aku menyebutnya “Peri salju” (Yuki no Yosei, 雪の妖精).

Dalam Lamunanku sepanjang perjalanan ini, sayup-sayup aku mendengar bahwa akan turun salju hari ini, dan berkemungkinan salju akan turun dalam kurun waktu satu bulan. Suatu fenomena yang berbeda dari biasanya, dimana salju jarang sekali turun di kota ini, dan kalaupun turun salju hanya bertahan selama satu minggu. Apakah semua berhubungan dengan wanita itu, apakah ini hadiah untukku, apakah Ia memang peri salju. Semuanya tetap menjadi suatu misteri, suatu misteri yang indah, yang mungkin tidak akan indah lagi kalau misteri itu terungkap.

Kembali aku melihat barisan pepohonan dari tempat dudukku, dan aku pun tersenyum.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s