Pelajaran dari Pulau Easter (Rapa Nui)

Pulau yang memiliki luas 163,6 Km2 ini terletak di sebelah selatan Samudra Pasifik dan secara teritorial termasuk ke dalam Negara Chili, provinsi Valparaiso. Pulau ini disebut dengan Rapa Nui dalam bahasa Polynesia (Rapa Nui merupakan sebutan untuk suku yang tinggal di pulau ini), suku Rapa Nui sendiri menyebut pulau ini dengan “Te pito o te henua” (Pusar Dunia) dan Isla de Pascua dalam bahasa Spayol, kalau diartikan ke dalam bahasa Indonesia akan menjadi Pulau Paskah, nama ini digunakan karena berdasarkan sejarahnya seorang Navigator dari Belanda, Jakob Rogevven menemukan pulau ini pada hari Paskah tahun 1722. Pulau ini merupakan pulau kecil yang terpencil, dari Daratan utama Chili berjarak 3.515 km.

Pulau Easter KnightmanPeta Pulau Easter

Pada 1600 tahun lalu, Pulau ini merupakan daerah jajahan dari bangsa Polynesia, dimana pada saat itu Pulau ini ditumbuhi oleh pohon palm dan pohon-pohon besar lainnya dan merupakan pulau yang sangat subur. Kehadiran manusia di pulau ini, merubah keadaan pulau. Manusia mengeksploitasi semua suber daya alam, menebang pohon-pohon besar untuk membuat Kano, rumah dan lainnya. Mereka membuka hutan, kemudian dijadikan sebagai tempat untuk bercocok tanam. Inilah prolog tentang pulau ini, bangsa Polynesia yang menetap di pulau ini dikenal dengan suk Rapa Nui.

easter-island1Moai

Red Hat MoaiMoai bertopi merah

Suku Rapa Nui yang menetap di pulau ini pun menjadi maju dan mencapai puncak kejayaannya, hal ini dibuktikan dengan banyak ditemukannya Moai, Patung besar berbentuk manusia yang terbuat dari batu. Moai ini memiliki ukuran dan tinggi yang bervariasi, tingginya dari 2,8 m sampai 11,9 m, dengan bobot sekurang-kurangnya 27 ton. Pada saat sekarang, patung ini berjumlah kurang lebih 900 buah. Banyak misteri yang menyelimuti patung ini, misteri tentang topi merah yang berukuran besar yang dibuat terpisah dengan Moai, tentang bagaimana cara pembuatannya, apa tujuan pembuatannya. Misteri tentang bagaimana patung-patung tersebut dipahat dan diangkat, misteri inipun terpecahkan satu persatu oleh para ahli. Kemajuan peradaban suku Rapa Nui ini dapat kita lihat dari banyaknya patung-patung dan benda-benda lainnya yang mereka tinggalkan.

Selama beberapa tahun berikutnya, populasi di pulau ini meningkat secara eksponensial. Populasi penduduk yang berada di pulau ini diperkirakan mencapai 7,000 jiwa. Populasi ini terus meningkat, sehingga daya dukung sumber daya alam pulau tidak lagi mencukupi, karena semua pohon di hutan sudah di tebang, tanah yang dijadikan sebagai lahan untuk bercocok tanam manjadi miskin unsur hara dan kering.

Penduduk pulau ini mengalami krisis makanan, yang menyebabkan mereka hanya bergantung pada Ayam dan hasil tangkapan dari laut. Krisis di pulau ini terus berlanjut, dimana daya dukung pulau telah melampui batas, Overeksploitasi pada pulau, sehingga menyebabkan rusaknya tatanan sosial. Perang yang terjadi antara penduduk, untuk mendapatkan sumber makanan. Perbudakan pun mulai berkembang, dimana yang lemah ditindas. Dan sejarah yang paling kelam dari pulau ini adalah, kanibalisme. Saat semua sumber makanan mulai habis, tidak ada lagi sumber daya alam yang bisa dimanfaatkan, kanibalisme merupakan satu-satunya cara bertahan hidup.

Pada saat Jakob Rogevven menemukan Pulau ini pada tahun 1722, Ia mengatakan bahwa jumlah penduduk di pulau ini sekitar 2,000-3,000 jiwa. Pada tahun 1877, populasi di pulau ini diperkirakan hanya 111 orang, hal ini diperparah dengan berbagai macam penyakit yang timbul, yang dibawa oleh orang-orang dari daratan Eropa.

Dalam hal ini, kita bisa mengambil sebuah pelajaran bahwa sesuatu yang berlebihan akan berdampak negatif pada kita kelak. Sebagaimana Pulau Easter yang maju, dengan kebudayaan dan peradabannya tinggi, namun karena letaknya yang terpencil dan overeksploitasi yang terjadi pada sumber daya alam, mengakibatkan hancurnya peradaban dan kebudayaan di pulau ini. dari populasi penduduk 7,000 jiwa, hingga yang bertahan hanya 111 orang. Hal ini juga tidak terlepas dai bencana yang terjadi pada pulau, seperti erosi, gunung berapi, dan lainnya.

Sebuah ungkapan bijak mengatakan bahwa;

“Saat pohon terakhir ditebang, saat air bersih terakhir diminum, saat ikan terakhir dipancing, maka pada saat itu, semua sudah terlambat. karena uang yang kita miliki tidak mampu membeli kehidupan”.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s