Helm siapa di atas kotak itu ???

6.03 PM, 12 Desember 2011.

“cieeettt..kreeet” bunyi pintu yang berderak saat dibuka.

“aaaaa…..uuuu……” angin yang bertiup pun terdengar bagaikan anak kecil yang menangis.

Setiap cerita hantu akan diawali dengan bunyi-bunyi yang misterius, kita tidak tahu darimana sumber bunyinya, kita hanya bisa mendengarnya. Saat berjalan sendiri di sebuah lorong, berasa seorang yang mengikuti kita, saat kita berjalan pelan, ia juga ikut berjalan pelan. Saat kita mencoba berlari, ia terdengar mengejar, itulah… suara  langkah kaki kita sendiri.

Makanya jangan buru-buru takut, karena ceirta ini juga bukan cerita tentang hantu. Ini cerita tentang Sati dan Mala, yang harus terpisah oleh sesuatu yang didambakan setiap orang, suatu mimpi yang besar.

Sore itu, Sati dan Mala berjanji untuk bertemu di sebuah restoran siap saji. Sebuah restoran di kota Padang, setiap orang pernah makan di sana, kalau tidak pesan paha, tentu akan pesan dada, restoran dengan menu yang aneh. Maksudnya paha dan dada ayam, jangan keburu berpikiran mesum.

Akhir tahun ini adalah hari yang sibuk untuk Sati, bahkan Ia tidak memiliki waktu untuk mengajak Mala jalan-jalan untuk menikmati Kota Padang. Sati terlalu sibuk dengan semua berkas-berkasnya, dari pagi sampai sore. Tidak hanya itu, Ia juga harus pergi ke beberapa tempat pada hari yang sama, karena satu hari lagi, Ia akan pergi jauh meninggalkan Kota Padang, Kota Tercinta. Semuanya harus disiapkan hari ini, karena tidak ada waktu untuk besok, itu yang membayangi pikiran Sati hari ini.

Terlihat Mala duduk melamun sendiri, Paha dan Dada sudah selesai dinikmati, mohon bagi yang berpikiran mesum untuk tetap menjaga imajinasinya. Tidak berapa lama kemudian, Sati datang. Pemuda yang selalu berpenampilan ala kadarnya ini, terlihat sangat lelah. Namun, saat menatap Mala merupakan suatu kebahagiaan tersendiri yang bisa menghilangkan semua lelah, terbukti dengan senyuman dan tawanya yang tulus. Mala membalas dengan senyuman dan lambaian tangannya.

“hehehe…lama ya menunggunya” Sati yang slenge’an memulai percakapan.

“tidak kok, apa sudah siap semua persiapannya?” Mala membalas.

“Sepertinya untuk berkas-berkas sudah, namun untuk perlengkapan pribadi belum”

“apa lagi yang kurang?, ada yang bisa dibantu?”

“hehehe…pesan makanan dulu ya” Sati menutup pembicaraan, tanpa menjawab pertanyaan Mala dan lansung menuju kasir di restoran yang bisa pesan paha atau dada.

Antri, Sati masih sempat tersenyum pada Mala, seperti biasa, sati tidak pesan paha, Ia lebih suka dada, maksudnya dada ayam. Pilih menu, tunjuk menu, pesan, menu yang dipesan siap, hitung uang, bayar, ambil kembalian, ambil pesanan, kasir mengucapkan “terima kasih…sering-sering belanja di sini ya!”, ketawa cengengesan, balas mengucapkan terima kasih, berjalan ke arah Mala, tersenyum,  tarik kursi, duduk, membaca Basmallah, makan, dan saat melakukan semuanya Sati tidak lupa untuk bernafas. Mala hanya tersenyum melihat Sati melakukan itu semua, hal yang biasa, tapi hari ini akan menjadi kenangan buat mereka.  Mala sadar akan hal itu, Ia merasa bangga mengenal Sati, namun di sisi yang lain Ia sangat sedih akan terpisah jauh dengan Sati.

Lamunan Mala yang terbuyarkan, kaget, saat Sati menyeringai memperlihatkan gigi-gigi drakula dari kentang

“Roooooaaaarrrrrr…..” Sati menyeringai, Mala tertawa, Sati tertawa, Mereka berdua Tertawa.

Kembali hening, Sati kembali melanjutkan memakan dada yang Ia pesan.

“kira-kira besok bagaimana ya?” Mala bertanya.

“tenang saja, walau kita berjauhan, tapi akan tetap dekat…hehe” tenang Sati menjawab.

Mala tersenyum. Entah apa yang ada di pikiran Mala saat itu, apakah Ia bimbang, ragu, sedih, senang, namun Ia terlihat sangat tegar dengan semua yang dihadapinya. Sebenarnya Sati juga merasakan hal yang sama, tapi Ia tidak memperlihatkan pada Mala, karena Ia tahu benar dengan pilihan yang diambilnya dan bagaimana menyikapinya.

Sati melanjutkan makan, karena Mala sudah siap duluan, Ia hanya melihat Sati yang makan dengan lahapnya. Beberapa waktu kemudian.

“ah, kenyang” Sati sambil memegang perutnya.

Tiba-tiba saja pandangannya tertuju pada sebuah Helm yang terletak di atas kotak besar, letaknya tidak terlalu jauh dari meja mereka. Sati melihat sekeliling, hanya ada mereka, meja yang lain sudah kosong.

Exif_JPEG_PICTURE

“ada yang ketinggalan helm” Sati memberi tahu Mala, apa yang dilihatnya.

“mana?” Mala mencoba mencari, dan kemudian pandangannya juga tertuju pada Helm dan kotak yang sama.

“Helm siapa ya?” lanjut Mala, pertanyaannya bagaikan sebuah misteri.

“mungkin Helm bapak yang duduk di sebelah kita tadi” Mala mencoba mengingat.

“kita beri tahu pelayan restotan ini saja, biar mereka yang simpan dan bapak tadi tidak susah mencari helm sama kotaknya” Sati kemudian menggeser kursinya dan berdiri siap untuk melangkah mencari pelayan restoran.

“eh, Sati, tunggu!” Mala memanggil.

“coba lihat dulu, apakah itu bom, atau sejenisnya” Mala menaruh curiga pada kotak besar tersebut.

“hah!” Sati terkejut, bagaimana kalau itu memang betul bom.

“sebaiknya kita lansung lapor pada satpam restoran saja” Sati mulai mencari solusi.

Sati mulai berdiri, melangkah, mengayunkan tangan, tidak lupa untuk bernafas, lihat ke kiri, lihat ke kanan, satu langkah, dua langkah, kembali melihat ke arah Mala, dan terkejut. Mala sudah  mengambil kotak dan helm tersebut, kemudian memeluk erat kotak itu dipangkuannya, dan tertawa ke arah sati yang masih kebingungan.

“Bapak yang tadi udah ngasih ini ke kita lho” Mala menggoda Sati.

“…?…” Sati masih bingung dengan situasi yang dihadapinya.

“huahahahaha…” kemudian Ia pun tertawa, Ia baru sadar bahwa Mala baru saja menggodanya.

“huahahahaha…coba Tanya bapak tadi, atau pak satpam, Helm siapa ini…huahahaha” Mala kembali menggoda dan tertawa. Mereka berdua tertawa.

“ini hadiah kecil untuk mengiringi mimpi besar” Mala memberikan kotak yang dibungkus dengan plastik berwarna putih itu kepada Sati.

Kotak itu adalah hadiah Mala untuk Sati, karena Sati akan pergi jauk keesokan harinya. Mala sengaja memberi kejutan untuk Sati agar mereka tidak lupa akan hari ini. kenangan dimana suatu mimpi yang besar berawal.

“ayo buruan buka, Bapak tadi nggak bakalan marah kok…huahahaha” Mala tetap saja menggoda Sati

Sati tersenyum dan berkata “bagaimana kalau ini Bom?…huahahaha”

Mereka berdua tertawa, larut dalam suasana, tanpa disadari bahwa pada esok hari mereka akan berpisah. Namun itulah hidup, dimana sesuatu yang besar berasal dari hati yang paling kecil. Hari ini adalah harimu, esok masih sebuah misteri, maka janganlah lewatkan harimu dengan sesuatu yang tidak berarti. Kita bertemu dan kita juga akan berpisah, ketika kita berpisah, tentu akan datang masa dimana pertemuan kembali itu sesuatu yang sangat indah. Saat semua ikhlas, saat semua bersemangat, saat semua tabah, saat semua sabar, saat semua bermimpi, saat semua berusaha, saat semua berdo’a dan akan tiba juga saatnya semua menikmati hasilnya.

2 responses to “Helm siapa di atas kotak itu ???

  1. jal, aku nangis lho bacanya..^_^..so sweet kecek urang awak..
    wish “Sati and Mala” together forever..i do really wish

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s