Sebuah Pelajaran dari Tragedi Minamata (水俣病, Minamata Byō)

Secara matematika, 1+1= 2, dua merupakan hasil dari proses satu ditambahkan dengan satu. Begitu juga dengan kehidupan hasil yang kita capai sekarang juga diawali dengan berbagai proses. apakah proses itu menyenangkan atau tidak, apakah proses itu cepat atau lambat, itu semua tergantung kepada kita yang terlibat dalam proses tersebut. Untuk Negara maju seperti Jepang, juga diawali dengan suatu proses. saya ingin mengatakan bahwa sebelum menjadi Negara maju, Jepang melalui sebuah proses sebagai Negara berkembang, seperti Indonesia pada saat ini. akan tetapi kenapa prosesnya lebih cepat dibanding Indonesia, ini dikembalikan lagi kepada individu dan sumber daya manusia yang terlibat dalam proses tersebut. Salah satu pelajaran yang dapat kita ambil adalah dalam kasus Minamata atau di Jepang dikenal dengan Minamata Byō.

Kasus Minamata byo ini, sama dengan halnya keadaan di Indonesia sekarang dimana semua pabrik atau industri tidak peduli tentang kesehatan lingkungannya, hal ini dibuktikan dengan membuang limbah pabrik semena-mena tanpa memperhatikan aturan yang berlaku. Walaupun hal ini banyak terjadi, namun pabrik yang bergerak di jalur hijau dan menyadari pentingnya kesehatan suatu lingkungan juga banyak jumlahnya. Alangkah baiknya, kalau semua pabrik dan industri mengikuti jalur hijau, atau menjaga lingkungan seiring meningkatkan kesejahteraan dan perekonomian bangsa. Sebuah pelajaran dapat kita ambil dari Negara maju seperti Jepang. Mereka juga pernah menjadi Negara berkembang, mereka juga pernah mengalami kasus yang sama dengan kita, namun mereka selalu melangkah ke depan dan belajar dari pengalaman. Kenapa kita hanya memperhatikan dan berdiam diri, apabila kita punya kesempatan untuk belajar dan tumbuh ke arah yang lebih baik.

Prolog Minamata Byō

Teluk Minamata terletak di kota Minamata, Kumamoto Perfecture, Jepang. Tragedi ini tejadi pada tahun 1959, sektor perekonomian utama di Minamata adalah perikanan. pada saat itu laporan mengenai penyakit aneh di Minamata sangat banyak masuk pada pemerintah daerah Kumamoto, Pasien menderita Kejang-kejang, tidak bisa bicara dengan jelas, berjalan dengan terhuyung-huyung, lumpuh, koordinasi gerakan terganggu dan gangguan fungsi kerja system syaraf lainnya. Ketika diamati lingkungan sekitar, kucing juga menjadi gila, berjalan berputar-putar, terhuyung-huyung, bahkan diceritakan sampai ada yang melompat ke laut. Tidak hanya itu, juga burung camar dan gagak yang mati dan terlihat di sepanjang teluk Minamata.

Yang lebih parahnya adalah ketika anak-anak yang lahir dengan berbagai gejala, kelumpuhan, cacat, keterbelakangan mental, bahkan ada yang meninggal beberapa hari setalah lahir. Padahal orang tua sang bayi dalam keadaan sehat, tanpa menunjukkan gejala-gejala tertentu. Hal ini menjadi perhatian yang serius bagi pemerintah lokal dan pusat. Apa penyebab terjadinya penyakit aneh ini.

Para peneliti dari Universitas Kumamoto (Medical study group) dan Kementrian kesehatan dan kesejahteraan Jepang melaporkan bahwa pada teluk Minamata telah terjadi pencemaran methyl-mercury. Seluruh ikan dan hewan laut lainnya di teluk Minamata juga sudah tercemar, hal inilah penyebab utama penduduk mengalami gangguan pada system syaraf. Umumnya penduduk Minamata mengkonsumsi ikan rata-rata sebanyak 3 kg per harinya, sehingga hal ini menyebabkan bioakumlasi pada penderita. Penyebab pencemaran ini adalah pabrik besar yang bernama Chisso.

Pabrik Chisso

Chisso yang didirikan pada tahun 1908, merupakan pabrik yang memproduksi pupuk kimia untuk pertanian dan salah satu pabrik besar yang bergerak dalam bidang ini di Jepang. Perekonomian di Minamata menjadi kuat seiring dengan perkembangan dan besarnya jumlah produksi hasil indusri oleh Chisso.

Selain memproduksi pupuk kimia, Chisso juga memproduksi Asam asetat (Acetic acid), Vinyl Chloryde dan plasticizers. Dalam memproduksi asam asetat, Chisso menggunakan Methyl-mercury sebagai catalyst untuk membuat Acetaldehyde, Acetaldehyde inilah yang nantinya akan diubah menjadi asam asetat. Dengan sistem pengolahan limbah yang sangat buruk, Chisso membuang sampah Methyl-mercury ke teluk Minamata, hal inilah yang menjadi cikal bakal tragedy Minamata.

Tragedi Minamata

Tragedi minamata terjadi akibat penumpukan (Bioakumulasi) zat methyl-mercury pada tubuh manusia. Proses bioakumulasi terjadi karena zat methyl-mercury telah masuk ke dalam rantai makanan; laut yang telah tercemar menyebabkan plankton sebagai makanan ikan-ikan juga tercemar, kemudian zat methyl-mercury ini akan menumpuk dalam tubuh ikan, dan manusia sebagai puncak dalam rantai makanan akan memiliki kandungan zat methyl mercury terbanyak (Biomagnification).

biomagBiomagnificatin dan Bioaccumulation

Methyl-mercury dalam tubuh dalam jumlah yang banyak akan menyebabkan gangguan pada system syaraf. Methyl-mercury akan menyerang sel-sel syaraf. Proses ini bisa dijelaskan secara umum sebagai berikut; sel syaraf yang terdiri dari Actin, Tubulin dan Neurofibril. Apabila bagian ini diserang oleh methyl-mercury maka bagian actin dan tubulin akan rusak dan menyusut, sehingga microfibril yang menyampaikan ransangan akan terbuka, sehingga terjadilah gangguan mekanisme pada system syaraf. Akibat dari terganggunya sel syaraf ini sangat fatal, dimana koordinasi otak dan anggota tubuh lainnya menjadi tidak sejalan, setiap informasi yang disampaikan oleh otak tidak akan pernah sampai secara utuh pada seluruh anggota tubuh. Hal ini dapat dilihat pada tragedy Minamata dimana penderita susah untuk berbicara, kelumpuhan, berjalan terhuyung-huyung, dan efek lainnya dari gangguan sysaraf.

Mercury effectEffect of Mercury on Neuron

Kurang lebih 17.000 orang dari Kumamoto Perfecture dan Kagoshima Perfecture yang melapor kepada pemerintah terkait dengan gejala dari Minamata Byō ini. Untuk total jumlah penderita secara keseluruhan tidak dapat dilakukan, karena banyak dari mereka yang merasa malu dan tidak melaporkan diri. Pemerintah Jepang dan Chisso memberikan kompensasi pada penderita Minamata Byō, berupa; terapy, perawatan rumah sakit, dan kompensasilainnya. Dari sekian banyak jumlah penderita Minamata Byō, banyak dari mereka yang meninggal selama masa perawatan, sebelum perawatan dan kondisi lainnya yang tidak dilaporkan.

memorial of minamata victimsMemorial of Minamata victims

After Tragedi

Setelah kejadian ini, dalam proses yang panjang, para korban yang terkena dampak mercury menuntut ke pemerintahan dan Chisso sebagai sumber dari pencemaran ini. akhirnya pemerintah dan Chisso menyediakan ganti rugi kepada para korban yang telah didata, dan dilakukan perawatan dan rehabilitasi yang dibiayai oleh pemerintah Jepang dan Chisso sendiri.

Pada tahun 1968, Chisso menghentikan produksi asam asetatnya, seiring dengan hal itu kadar mercury yang terkandung dalam tubuh ikan dan hewan invertebrata laut lainnya mulai berkurang. Untuk mengantisipasi ikan yang telah terkontaminasi mercury, pemerintah Jepang memasang jaring di teluk Minamata, supaya ikan-ikan dan hewan invertebrata air lainnya tidak tersebar jauh.

Karena ikan-ikan yang mengandung mercury membuat mata pencaharian para nelayan menjadi hilang. Hal ini diantaisipasi oleh pemerintah dan Chisso, semua ikan-ikan yang di dalam jaring di teluk Minamata ditangkap oleh para nelayan, selanjutnya ikan-ikan tersebut akan dibeli oleh Chisso untuk dimusnahkan.

Kandungan merkuri yang terdapat pada ikan-ikan dan invertebrata air telah berkurang, dan juga penangkapan ikan-ikan yang mengandung merkuri, selanjutnya bagaimana dengan sedimentasi merkuri pada dasar perairan. Pemerintah Daerah Kumamoto melakukan pengerukan di teluk Minamata.

Sejak saat kejadian tragedi minamata, para penduduk banyak mengambil pelajaran. Mereka tidak membuang sampah pada sembarang tempat, tapi mereka memilah-milah dan mengelompokkan sampah tersebut menjadi 20 kategori. Para korban dari Minamata byo, membagi pengalaman mereka kepada anak-anak dengan datang ke sekolah-sekolah sehingga generasi selanjutnya tahu dan bisa menjaga lingkungan dengan baik, supaya tragedi Minamata tidak terulang kembali.

pemisahan sampahSorting the garbage

Pada saat ini, teluk minamata sudah bersih dan bebas dari merkuri, seperti yang diinformasikan oleh pemerintah daerah Kumamoto, bahkan teluk Minamata merupakan teluk yang terbersih di prefecture Kumamoto. Area ini juga dijadikan sebagai Eco-tourism, yang mengjarkan kita bagaimana hidup sehat dan menjaga lingkungan sehingga kita dan anak cucu kita bisa hidup pada masa yang akan datang.

Minamata disease memorial monumentMinamata disease memorial Monument, Minamata,Kumamoto, Japan

Lihatlah negeriku

Setelah bercerita tentang Minamata Byo, tentu kita semua akan berkata “Mereka hebat ya!, bisa keluar dari krisis seperti itu”.  Ketika kita mengatakan hal itu, kita harus mengambil pelajaran dan mengaplikasikannya ke dalam kehidupan kita. Maksud saya, ketika kita melihat negeri kita ada banyak kasus yang menjadi permasalahan dan kita semua terlibat di dalamnya dan bisa mengambil langkah yang tepat untuk ngatasi permasalahan ini dengan cara kita masing-masing.

Yang paling besar adalah lumpur LAPINDO, kenapa hal ini terjadi, ini juga merupakan tragedi yang menurut saya sama dengan Minamata Byo, Keteledoran dari perusahaan yang mengakibatkan orang banyak terkena dampaknya. Apakah sudah selesai?, belum!, apakah semua kompensasi sudah dibayarkan?, saya rasa anda tahu jawabannya.

Tambang emas, apakah semua tambang emas mengikuti jalur hijau yang ramah lingkungan. Kalau yang kita maksud perusahaan-perusahaan besar, saya rasa mereka sudah mengantisipasinya dan sudah menjadikan perusahaan mereka menjadi perusahaan yang ramah lingkungan. Permasalahan di sini timbul dari tambang-tambang emas liar dan milik pribadi dengan skala rumah tangga, kenapa bisa timbul permasalahan. Para penambang liar dan pribadi ini menggunakan merkuri untuk memisahkan emas dan substrat lainnya. limbah dari hasil pengolahan tersebut, tidak diproses atau ditampung pada suatu tempat penampungan limbah, tapi malah lansung dibuang ke sungai atau saluran airnya. Tentu saja kita bisa memprediksikan apa yang akan terjadi pada masa yang akan datang, apabila hal ini terus dibiarkan. Masih ingatkah anda dengan Bioakumulasi dan Biomagnifikasi?.

Sampah, ini yang menjadi permasalahan kecil dengan efek paling besar. Kenapa permasalahan kecil, karena setiap kita belum dididik untuk membuang sampah pada tempatnya. Coba anda bayangkan, ketika anda naik mobil, anda mebuang sampah sembarangan melalui jendela mobil anda. Kalau yang melakukan hanya anda saja, tentu sampahnya cuma satu buah, bekas anda. Tapi bagaimana yang melakukan hal ini adalah setiap orang yang memiliki mobil di Indonesia. saya tidak bisa membayangkan bagaimana sampah tersebut akan menumpuk dan menggelamkan Indonesia. mari kita belajar dari hal yang paling kecil, anda tidak perlu mengelompokkan sampah menjadi 20 kategori seperti penduduk Jepang di Minamata, cukup kelompokan menjadi tiga kategori saja (organik, bisa dibaka dan tidak bisa dibakar), dan buang sampah pada tempatnya. Hanya itu!

Mari kita belajar dari kisah-kisah orang lain. Jangan sampai tragedi itu menimpa kita, baru setelah itu kita belajar, mari kita cegah selagi kita bisa, mari kita berubah menjadi lebih baik dengan mulai dari kita sendiri. Anda mengatakan bahwa orang Jepang hebat, saya jawab iya, tapi saya juga mengatakan kita lebih hebat, karena kita akan mencegah tragedi-tragedi itu sebelum terjadi.

Salam Lestari.

5 responses to “Sebuah Pelajaran dari Tragedi Minamata (水俣病, Minamata Byō)

  1. Pingback: The Mad Hatter (Mercury process on the human body) | Adventure in Rijal's Brain·

  2. beda.x indonesia sm jpang itu y cman pda mslah tnggung jwb,
    byangin aja tu ksus lapindo smpe skrang blm jg kelar, bhkan terksan diabaikan,

    • yup setuju, saat semua pihak tidak mau dirugikan, bahkan terkesan sengaja dilupakan tanpa ada penyelesaian. sungguh ironis memang, bahkan pihak yang seharusnya bertanggung jawab, malah ingin menjadi presiden, jadi apakah bangsa ini nantinya?

  3. Semua kembali ke attitude masing-masing. Coba aja masyarakat Indonesia attitudenya kayak warga Jepang, mungkin bisa jadi negara maju Indonesia :3

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s