Feromon pada Semut (Hymenoptera: Formicidae)

Feromon berasal dari bahasa Yunani (Pherein; membawa atau mentransfer, Hormone; ransangan). Feromon berarti zat kimia yang disekresikan oleh satu individu dan diterima oleh individu lainnya pada jenis yang sama, dan memberikan tanggapan berupa perilaku nyata (Releaser Pheromone) atau berpengaruh pada proses fisiologi (Primer Pheromone).

Feromon hanya dapat direspon oleh individu pada jenis yang sama (Semiochemical), tetapi pada kasus yang berbeda feromon juga bisa direspon oleh jenis lain (Allelochemical) (Wyatt, 2003). Allelochemical biasanya ditemukan pada interaksi semut dengan serangga  lainnya, seperti interaksi semut dengan kutu daun (Aphididae).

Feromon pada satu jenis semut berbeda dengan jenis lainnya, karena susunan molekul kimia dari feromon tersebut juga berbeda. Feromon yang dihasilkan oleh semut berfungsi sama seperti jejaring sosial yang memberikan informasi kepada individu lainnya dalam jenis yang sama. Luas area penyebaran feromon yang dihasilkan tergantung pada jumlah volume feromon yang dihasilkan oleh semut. Informasi dengan mengunakan zat kimia (feromon) sangat efektif dibandingkan dengan informasi yang disampaikan dengan cara lain, seperti melihat, mendengar atau dengan sentuhan. Hal ini dijelaskan pada tabel 1.

Tabel 1: Perbandingan efektifitas informasi dengan berbagai cara pada Semut.

Item

Tipe sinyal

Feromon

Bunyi

Visual

Sentuhan

Jangkauan area

high

High

Medium

Very short

Kecepatan

Slow

Fast

Fast

Fast

Apakah bisa melewati barrier (rintangan)?

Yes

Yes

No

No

Apakah bisa mengetahui lokasi pengirim pesan?

Difficult

Medium

High

High

Energi yang dibutuhkan untuk mengirim pesan

Low

High

Low to moderate

Low

Daya tahan sinyal

Potentially high

Instantaneous*

Instantaneous

Short

Apakah bisa digunakan saat gelap?

Yes

Yes

No

Yes

Spesifikasi

Potentially very high

High

More limited

Limited

* secara instan atau hanya bertahan pada saat itu saja

Semut menggunakan feromon untuk memberikan informasi pada koloninya, seperti; lokasi makanan, alarm, waktu kawin dan sebagai tanda pengenal untuk koloninya. Feromon juga digunakan oleh semut untuk mengetahui letak sarangnya (gambar 1).

Picture11

Pada gambar 2, dapat dilihat beberapa kelenjar pada semut, kelenjar dengan huruf berwarna merah merupakan kelenjar yang menghasilkan feromon, yaitu; kelenjar propharyngeal, kelenjar postparhyngeal, kelenjar venom dan kelenjar dufour’s. waktu memberikan informasi berupa feromon semut mengkombinasikan beberapa kelenjar atau hanya menggunakan satu kelenjar saja, itu tergantung kepada tujuan dari informasi yang akan disampaikan.

Picture10

Pada penelitian yang dilakukan oleh Mashaly et al menyatakan bahwa semut dengan jenis Pachycondyla sennaaraensis bisa membuat jalur menuju makanan atau suatu lokasi dengan menggunakan 0.1 gland equivalent/40 cm, maksudnya dengan menghasilkan feromon sebanyak 0,1 dari total feromon keseluruhan pada kelenjar, semut bisa membuat jalur sepanjang 40 cm. dan feromon ini hanya dihasilkan oleh kelenjar Dufour’s.

Setiap informasi yang disampaikan melalui feromon akan direspon oleh semut lainnya dengan mengunakan Antena. Pada antena terdapat organ khusus untuk mendeteksi zat kimia terutama feromon. Dalam suatu kasus, semut mengidentifikasi semut yang ditemuinya dengan mendekatkan antena kepada semut tersebut, sehingga kita melihat semut tersebut seperti sedang bersalaman.

Daftar pustaka :

Mashaly, A. M. A., Ahmed A. M., Al−Abdullah M. A. and Al−Khalifa M. S. 2010. The trail pheromone of the venomous samsum ant, Pachycondyla sennaarensis. Journal of Insect Science: Vol. 11.

Moody, D. 1993. A Field Study of the Ant Trail Phenomenon. Proceedings of the 5th Workshop/Conference of the Association for Biology Laboratory Education (ABLE). Findlay, Ohio.

Nakamichi, Y. and Arita, T. 2005. Effectiveness of Emerged Pheromone Communication in an Ant Foraging Model. The Tenth International Symposium on Artificial Life and Robotics 2005(AROB 10th ’05). Oita, Japan.

Verheggen, F. 2008. Production of alarm pheromone in aphids and perception by ants and natural enemies. Disertation of Doctoral degree. Gembloux Agricultural University. Gembloux, Belgium.

Wyatt, D. T. 2003. Pheromones and Animal Behaviour, communication by smell and taste. Cambridge University press. New York.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s