Evolusi galau dan efeknya

Jadul (jaman dulu), waktu kita belum mengenal internet, kita saling berkirim surat untuk memberi kabar satu sama lain, apabila berada pada tempat yang berjauhan. Pada saat itu kita mengenal “sahabat pena”, teman yang saling bertukar surat dan kabar, “koleksi perangko” merupakan suatu kebanggaan, semakin banyak sahabat pena, maka koleksi perangko kita pun akan semakin banyak, suatu kebanggaan apabila milik kita lebih kompleks daripada yang lain.

Nah!, bibit untuk galau berkembang pada masa ini, masih ingat dengan “Dear Diary”.

Kalau malam lagi galau, trus akan nulis “Dear Diary, aku lagi galau”. Cieeeee…cieee…!

Dulu belum ada istilah Galau bagi para Ababil (anak baru gede yang labil), tapi ketika kita lihat dan cari arti galau itu sendiri dalam kamus besar bahasa Indonesia (KBBI), galau berarti sibuk beramai-ramai; sangat ramai; berkacau (tidak karuan). Sedangkan pada saat ini, Galau diartikan dengan kalimat yang negatif seperti, suntuk, sebal, lagi gak mood, meracau karena masalah cinta dan lainnya. Istilah galau sendiri bagi para ababil berkembang sekitar tahun 2011.

Padahal sebelumnya kata-kata galau telah terlebih dahulu dipopulerkan oleh penyanyi Minang An Roys dalam lagunya yang berjudul “Galau di hanti nan luko”, lagu ini diproduksi sekitar 4 tahun yang lalu. Nah lho?

Istilah galau, baru berkembang saat semua sedang dijangkiti virus jejaring sosial, apakah itu facebook, twitter, delele. dan penyebaran virus “Galau” ini bisa menjangkiti semua pengguna jejaring sosial. Awalnya anda hanya membaca status galau, setelah itu anda akan merasakan bibit galau mulai bermunculan, keluar keringat dingin, pandangan mulai nanar, degup jantung terasa semakin kencang, badan menggigil, itu namanya anda belum makan atau anda sakit, sebaiknya segera ke dokter. Kita lanjutkan kepada penyakit “galau” tadi, setelah melihat teman anda yang galau, selanjutnya anda akan mencoba-coba untuk galau, lama-kelamaan galau itu enak terasa, bisa melepaskan semua sesak di dada. Galau itu sudah seperti “NARKOBA” yang menjangkiti pikiran kita, kalau belum galau dan update kegalauan di facebook, perasaan tidak akan tenang, hati gelisah, aduh gimana ya?.

Kalau Over dosis oleh Narkoba tentunya kita semua tahu; badan kejang-kejang, mulut mengeluarkan cairan aneh berbusa. Bagaimana Overdosis galau ini, anda akan merasakan over dosis galau; apabila anda galau, mau update status, trus mati lampu, baterai handphone and computer habis, jaringan internet terputus, pinjam Hape teman rupanya teman terpelit di dunia, akhirnya hanya bisa menahan diri, nah! Pada saat ini jari-jari tangan mulai gemetar dan kejang-kejang, panik, jantung berdegup semakin kencang, ingus mulai keluar dan anda tidak bisa tidur semalaman. Setalah beberapa hari seperti ini, efek galau akan terakumulasi dan anda mulai memasuki tahap over dosis, kantong mata hitam, badan kurus, dan kejang-kejang. Hati-hati ya kalau lagi galau.

Waduh, saya juga ikutan galau, ketika bercerita tentang topik ini, tulis di facebook dulu ah.

”maaf, saya lagi galau, mohon jangan diganggu”.

Saya pernah melihat setiap status teman saya di jejaring sosial, umumnya hanya mengeluh, sedih, memaki, berharap, berdo’a (entah kepada siapa dia berdo’a, tidak menyebutkan nama Tuhannya, mungkin pada jejaring sosialnya kali ya!), menggerutu, dan banyak lagi aktivitas yang sebagian besarnya bernada negatif.

Dan yang paling parah menurut saya adalah, galau itu membuat tangan dan pikiran tidak lagi sejalan, misalnya anda lagi galau, secara otomatis tangan anda sudah menari untuk mengetik status.

“ah, aku lagi galau”.

yang paling berbahaya adalah terjadinya pergeseran nilai sosial karena virus galau ini, apabila seseorang sudah galau, dia tidak lagi mengenal aturan dan menghormati orang lain, kenapa saya bilang begini, karena dia merasa komputer atau handphone itu milik dia pribadi (ya iyalah, sebagian juga masih punya emak) dan juga jejaring sosialnya, ketika menulis di jejaring sosial tersebut dia menulis hal yang bersifat pribadi, memajang foto yang bersifat pribadi (misalnya ya!, kalau ke sekolah atau ke kampus pakai jilbab, trus kalau kelihatan rambut sedikit lansung bilang..”wah, jangan liat, kita kan gak muhrim”, eh ketika lihat fotonya di jejaring sosial tidak pakai jilbab (emangnya foto itu loe sendiri yang lihat, seluruh dunia bisa liat Kaleee…aneh dech!). yang tidak luput dari pengamatan saya terhadap remaja “Ababil” ini adalah, ketika mereka menulis nama Tuhannya, dengan memberikan penghormatan kepada Tuhan biasanya kita menulis “Tuhan” dengan awalan huruf kapital “T”, dan “Allah” dengan awalan huruf kapital “A”, nah, penyakit galau ini, membuat mata anda berkunang-kunang, sehingga anda tidak lagi bisa membedakan mana yang huruf kapital dan mana yang kecil (dulu waktu SeDe nilai bahasa Indonesianya berapa sich?).

Saya sebagai pakar psikologi dadakan, sedang mencari cara bagaimana menghilangkan virus galau ini, mungkin anda yang membaca tulisan ini bisa membantu saya dalam menemukan solusi yang tepat, mari kita selamatkan para “Ababil-Ababil” ini dari kegalauan. Wah saya galau juga kalau terus memikirkannya. Nanti, kalau galau saya sudah hilang akan saya pikirkan kembali solusinya. Kalau saya sudah dapat solusinya berarti saya sudah tidak galau lagi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s