Kasir yang ngajakin Ribut

Seharian bekerja menggunakan komputer sungguh sangat melelahkan, hari ini saya sampai ketiduran di depan komputer. Ketiduran dan menidurkan diri itu berbeda sekali, kalau saya menidurkan diri tentu saja saya akan memilih segera pulang ke rumah dari ruangan kerja saya dan mengambil selimut hangat dengan kasur yang sangat empuk. Sayangnya ini bukan menidurkan diri, tapi tidak sengaja tertidur, istilah kerennya “ketiduran”, atau bahasa anak TK-nya “ketidulan”, atau bahasa gaulnya “ngorok cing!”, atau orang Minang menyebut “Takalok”, apapun namanya artinya tetap sama.

Mungkin sekitar satu jam saya tertidur. Sungguh tidak nyaman rasanya tertidur di atas meja, badan pegal-pegal dan hasrat ingin tidur tidak terpenuhi 100%. Apa boleh buat, kalau saya lanjutkan tidur di rumah, berarti saya akan pulang cepat, rasanya pulang siang-siang begini kurang enak dilihat. Ya sudahlah!, kembali melanjutkan pekerjaan yang tertunda. Namun harus hasrat ingin tidur ini harus diantisipasi terlebih dahulu. Maka, berangkatlah saya ke “COOP”, mini marketnya universitas. Kantuk, dingin dan jalan kaki, kombinasi yang menarik bagi saya dan sangat membangkitkan rasa ingin tidur yang luar biasa.

Sesampainya di coop, saya telah memilih beberapa kue dan minuman, seperti biasa pada jam segini, banyak mahasiswa yang berbelanja. Saya harus antri untuk membayar makanan yang dibeli. Waktu tiba giliran saya, sang kasir menghitung dan menggunakan peralatan lasernya men-scanning barcode pada makanan yang saya beli. Kantuk oh kantuk sungguh sangat menggoda, sambil dengan sabar saya menunggu dan kemudian melihat berapa yang harus saya bayar. Saya memberikan uang 502 yen, dengan pikiran uang saya akan kembali 200 yen. Saya dengan sabar menunggu sang kasir untuk memberikan kembalian, tapi sang kasir malah diam dan juga menunggu. Wah, si kasir ini tidak tahu orang yang sedang mengantuk apa, ini perjuangan yang sangat berat lo, berbelanja dan berjalan kaki di musim dingin sambil ngantuk.

Sang kasir bertanya dengan menggunakan bahasa jepang, yang kira-kira artinya seperti ini; “apakah anda punya uang 30 yen?”, saya jawab saja lansung “tidak ada”, kenapa sih kasir ini ngajakin ribut aja, sudah tau uang saya akan kembali 200 yen, kenapa ditanya lagi 30 yen. Wah, kasir ini memang ngajakin ribut sepertinya. Sang kasir bertanya lagi, “apakah anda punya uang 30 yen?”, walau penguasaan bahasa jepang saya ala kadarnya, saya tau apa yang ditanyakan, maka saya jawab lagi dengan jawaban yang sama “tidak ada”. Mendengar saya mengulang jawaban yang sama, si kasir malah terkejut. Nah lho?, kok si kasir terkejut, dalam kekantukan saya yang sudah ditahan-tahan dan dengan mengumpulkan semua konsentrasi yang ada, saya kembali melihat layar monitor yang bertuliskan berapa uang yang harus saya bayar. Astaganaga! Naganya banyak sekali!, aduh, bagaimana ini, angka yang tertulis di monitor tersebut adalah 532 yen, sedangkan uang yang saya kasih 502 yen, tentu saja sang kasir ngotot minta tambah 30 yen. Wah sungguh malu di depan kasir, sudah salah melihat monitor, nuduh si kasir ngajakin ribut, antrian sudah panjang di belakang. Wah..wah..wah…segera bayar, minta maaf dan lansung pergi, semua terjadi dengan begitu cepat.

pesan: jangan tidur waktu berbelanja atau si kasir akan ngajakin ribut dengan anda!

2 responses to “Kasir yang ngajakin Ribut

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s