Perjalanan ke Pulau Nagashima

Minggu tanggal 2 Desember 2012, Pemerintah Kota Kagoshima mengadakan sebuah acara yang dinamakan dengan “International Bus Tour”. Perjalanan kali ini dengan tujuan pulau Nagashima, Kagoshima prefecture, Japan.

Pagi di musim dingin, merupakan pagi yang terasa amat berat, kantuk, badan yang menggigil kedinginan dan semua kegiatan rutin di pagi hari lainnya, termasuk “panggilan alam”,huahahahaha… begitulah kesibukan di pagi ini, semua persiapan untuk mengikuti “international Bus Tour” sudah siap. Jaket tebal yang membungkus badan, serta topi yang melindungi kepala dari dinginnya musim ini. Kamera dengan tas sampingnya pun sudah di bahu, siap utuk berangkat. Perjalanan ini diawali dengan menaiki “Densha” (bahasa Jepang) atau “Tram” (bahasa Inggris) atau “kereta api listrik” (bahasa Indonesia). sambil menunggu tram, dengan mata yang setengah mengantuk berjuang untuk tetap berdiri tegak, dan begitu juga di dalam tram. Sema peserta yang akan mengikuti acara ini diharapkan untuk dapat berkumpul di “City Hall” atau kantornya pak Walikota, kota Kagoshima.

Pendaftaran tahap dua dilakuakan di dalam kantor tersebut, kita diberi tag name, brosur, peta, jadwal acara, dan juga makanan ringan yang sangat ringan sekali apabila ditimbang. Setelah selesai mendaftar, semua peserta menaiki bus masing-masing, terdapat tiga buah bus dan saya bersama rekan-rekan pelajar Indonesia lainnya juga menempati bus nomor tiga. Saya dan rekan-rekan pelajar Indonesia yang ikut; buk Efi, buk Utami, mbak Dian, mas Ian, mas Yogi, mbak Liha, mbak Ancah, mas Joshua, mbak Tara, serta teman satu kelas yang mengajak dan mendaftark saya untuk mengikuti acara ini; Simonichi dan Matsunaga. Kami semua dalam satu bus kecuali, mas Joshua, mbak Tara dan mbak Ancah.

Image

Sangat menyenangkan bisa menikmati liburan bersama teman-teman se-Indonesia dan teman kelas. Untung saja selama perjalanan saya tidak nyanyi lagu “naik-naik ke puncak gunung”, kalau waktu itu saya menyanyikan lagu ini, tentunya semua penumpang akan memberikan uang receh, yah 100 yen atau 50 yen jadilah, tapi sayangnya tidak jadi.

Perjalanan dari kota Kagoshima menuju pulau Nagashima hamper memakan waktu 2 jam, selam perjalanan ini panitia acara menerangkan sejarah dan memeriahkan suasana bus dengan “game kekeluargaan”. Gamenya sangat mudah sekali, kita diberi waktu untuk berkenalan dengan teman disamping kita, menanyakan berbagai hal yang dia sukai, dan selanjutnya memperkenalkan teman kita ke penumpang bus lainnya. Hal ini menjadi menarik, karena banyak Negara dalam satu bus, Indonesia, Jepang, China, Nepal, Thailand dan Sudan. Saya dengan bahasa inggris yang seadanya dan bahasa jepang yang terbata-bata memperkenalkan teman yang duduk di samping saya, buk Efi, saya menggunakan kolaborasi dari tiga bahasa; Indonesia, Jepang dan Inggris.

Image

Kami memasuki pulau Nagashima dengan menyeberangi jembatan yang menghubungkan pulau ini dengan pulau utama, pulau Kyushu. Pemberhentian pertama adalah sebuah toko yang bernama “Dandan Ishiba” (Dandan=terima kasih, dalam dialek Nagashima, Ishiba=pasar). Seharusnya setelah pemberhentian di Dandan Ishiba, kami ke taman dan lading pertanian kentang, akan tetapi karena hujan lebat, maka untuk pemberhentian di Taman dan ladang kentang ditiadakan. Acara di ladang kentang tentunya memanen kentang sesuka hati kita yang nantinya akan dibawa pulang ke rumah. Perjalanan dilanjutkan ke pemberhentian selanjutnya, yaitu pabrik Shochu yang terkenal di pulau ini. pabrik ini bernama Shimabijin yang menghasilkan shochu yang juga diberi nama “Shimabijin” dan “Shimamusume”. Pada pemberhentian ini, staff pabrik menjelaskan cara pembuatan shochu dan memperlihatkan produk-produk shochu yang dihasilkan.

Image

Perjalanan dilanjutkan, karena berhubung para cacing sudah demo dan mulai bertindak anarkis, karena jatah makan mereka siang ini sedikit terlambat, maka pemberhentian selanjutnya adalah “Sunset Nagashima”, sebuah hotel dan restaurant  dengan pemandangan sunset yang bagus, tapi waktu makan siang sunsetnya lagi istirahat, dan kalau tertarik untuk melihat sunset tentu saja di sore hari lebih tepat. Makanan dengan porsi yang sangat mengenyangkan, cacing-cacing yang pada demo tadi sudah mulai bubar.

Image

Setelah selesai makan siang, acara dilanjutkan dengan foto bersama dan permainan “ikut-ikutan”. Permainan yang saya rasa sangat aneh, karena dalam permainan ini dibentuk dua buah daerah yang berlambangkan “X” dan “O”/ “salah” dan “benar”. Panitia akan memberikan beberapa pernyataan yang berhubungan dengan pulau Nagashima, kita harus memilih apakah pernyataan itu benar atau salah, kalau benar silahkan pergi ke area yang berlambangkan “O”, dan sebaliknya. Kenapa saya bilang ini permainan yang aneh, karena dalam memberikan pernyataan waktu game berlansung dalam bahasa inggris dan jepang, sedangkan waktu menyampaikan informasi sepanjang perjalanan para panitia menggunakan bahasa jepang. Hal ini sangat sulit sekali bagi saya yang bahasa Jepangnya dibawah rata-rata. Alhasil, saya hanya mengikuti kemana rombongan terbanyak, ke area “O” atau “X”, saya ikuti jawaban dengan orang terbanyak, dan akhirnya pun orang dengan jumlah terbanyak tetap kalah, termasuk saya sendiri. Jadi, ikut-ikutan itu tidak baik.

Image

Setelah permainan ikut-ikutan ini, perjalanan dilanjutkan ke dermaga, tempat para nelayan mengkap ikan. Di dermaga ini, kami juga disuguhi makan shushi, shashimi dan “Burijiru” (sup dengan ikan Buri sebagai bahan utamanya). Waduh, dengan perut kenyang sesudah makan siang dilanjutkan dengan makan siang lagi, mari makan. Para staff dermaga juga mempergakan bagaimana cara pembuatan shashimi dari ikan, ikan yang digunakan adalah ikan “Buri”/”yellow Fish Tail”/ diindonesiakan menjadi Ikan dengan warna kuning pada bagian ekornya, panjang sekali ya, nama ikan ini dalam bahasa Indonesia.

Image

Panitia juga menyerahkan kentang secara simbolis kepada para peserta, karena memanen kentang tidak jadi, maka setiap peserta, mendapatkan sebungkus besar kentang, kira-kira beratnya melebihi 3 kilogram. Anda bisa membayangkan ketika setiap peserta membawa sebuah kantong besar yang didalamnya berisi tiga kilogram lebih kentang, sungguh sangat menarik sekali. Ada yang satu keluarga yang terdiri ikut acara ini, suami dan istri mendapatkan masing-masing satu bungkus besar, maka jadilah super dobel kentang seplastik besar. Entah apa yang akan dilakukan dengan kentang ini, atau makanan apa yang akan dibuat, atau kalau bisa ada yang mau beli?. Entah mimpi apa saya semalam, mungkin mimpi gerombolan monster kentang superbesar datang dan menyerang saya…toong…toong…tolong selamatkan saya dari cengkeraman para kentang-kentang super besar dan banyak yang datang bergerombol, memiliki taring, dan tidak bertangging jawab ini. wah, ternyata tidak mimpi, kentang sekantong plastic besar masih ada di tangan.

Image

Image

Perjalanan ini diakhiri, kami kembali lagi ke kantornya pak walikota Kagoshima, dan semuanya senang, dengan berbagai pengalaman yang seru hari ini, dan juga harus memikirkan bagaimana nasib para kentang ini, bagaimana kalau kita adakan “kentang party”, yang semua makanannya terbuat dari kentang; kue kentang, kerupuk kentang, buur kentang, lasagna kentang, soup kentang, nasi kentang, jus kentang dan ditutup dengan desert ala kentang; pudding kentang, jelly kentang dan es krim kentang.

Sekian perjalanan ke Nagashima hari ini. sangat menggembirakan.

2 responses to “Perjalanan ke Pulau Nagashima

  1. Mantap, semakin rajin updatenya.

    Tips biar makin banyak teman di blog:
    Kunjungi blog orang lain, buat komentar di tulisannya. Maka mereka akan mengunjungi balik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s