Simfoni hujan tentang masa depan

Rintik-rintik air yang turun tidak lansung jatuh ke bumi. Ia terhalang daun-daun hijau, ia menetes satu- persatu dari ujung-ujung daun, setiap tetesan yang jatuh mewakili satu nada. Sehingga dalam hujan ini setiap tetes air yang jatuh mewakili nada demi nada, terciptalah simfoni dalam hujan. Nyanyian yang menembangkan tentang alam, manusia dan rindu.

Sewaktu kecil, hujan merupakan musik yang indah, saat-saat dimana aku menari dengan bertelanjang kaki di bawah iramanya. Berlari, melompat dan mencoba untuk bisa masuk ke dalam sela-sela hujan yang turun, sesuatu yang mustahil untuk bisa menemukan sela-sela hujan, suatu ruang kosong di dalam hujan. Genangan air adalah tempat bermain yang asyik, cipratan airnya membuat kita saling tertawa, bahagia menari di bawah hujan, yang mendengdangkan sebuah simfoni, simfoni hujan.

Ibu pernah bercerita, di dalam setiap tetes hujan yang turun kita bisa melihat masa depan, masa depan yang ingin kau lihat dan masa depan yang tidak kau inginkan untuk melihatnya. Cerita itu sampai sekarang masih selalu saja kuingat, ketika hujan datang kucoba untuk melihat tetes demi tetesnya, apakah aku bisa melihat masa depanku di dalam bulir-bulir hujan yang turun. Setiap kali hujan yang turun kumencoba hal yang sama, setiap kali hujan yang turun sampai sekarang aku belum mengerti dan belum melihat masa depan yang dimaksud oleh Ibu.

Pernah suatu ketika, aku bertanya kepada Ibu, apakah untuk melihat masa depan dalam tetes hujan kita memerlukan alat khusus atau beberapa persyaratan harus dipenuhi terlebih dahulu. Waktu itu ibu hanya tersenyum, senyuman yang sungguh menawan yang bisa mengalihkan pertanyaanku pada senyuman yang indah itu. Senyuman yang bisa membuat aku lupa tentang apa yang kutanyakan tadi. Ibu menjawab hanya dengan senyuman, apa artinya ini?.

Setiap hujan turun, setiap itu pula aku merasakan sesuatu yang berbeda, sesuatu yang membuatku selalu penasaran tentang bagaimana melihat masa depan melalui hujan yang turun. Ibu, apakah yang Ibu maksud dengan melihat masa depan melalui setiap tetes hujan, sampai sekarang anakmu belum mengerti. Sampai musim hujan sekarang pun anakmu belum mengerti. Sampai hujan turun hampir setiap hari, anakmu tetap belum mengerti ibu. Apa maksud dari ungkapanmu, ibu. Sekarang pun aku masih duduk melamun memikirkan perkataanmu ibu, sampai-sampai aku duduk di atas atap rumah agar aku bisa melihat lansung masa depan yang kau maksud. Kurasakan setiap hujan yang turun, kupejamkan mata, dan kudengarkan nyanyian hujan ini. aku masih belum bisa melihat masa depanku, walau genangan air ini terus naik, membesar dan membesar, sampai yang terlihat hanya atap rumahku dan atap rumah mereka.

Ibu, aku mengerti, aku mengerti sekarang, aku bisa melihat masa depan lewat hujan. Ternyata butuh waktu dan butuh pengorbanan yang luar biasa untuk melihat ini. aku masih terduduk di atas atap rumah yang mulai perlahan ditenggelamkan oleh genangan air, genangan air yang besar yang berwarna coklat. Genangan air yang terus menari-nari bersama simfoni hujan. Hujan memainkan musik yang indah, sedangkan genangan air ini bagai penari latar yang baru belajar yang setiap gerakannya akan menghanyutkan setiap rumah, mobil dan semua benda yang dilaluinya. Aku mengerti sekarang ibu, kita bisa melihat masa depan yang kita inginkan dan yang tidak kita inginkan melalui tetes-tetes hujan yang turun. Dan masa depan itu tergantung pada kita, apakah kita ingin mendengarkan simfoni hujan tentang cinta atau simfoni hujan tentang bencana. semua itu tergantung kita.

Aku mengerti ibu, dendangkanlah sekali lagi simfoni hujan ini ibu, dendangkanlah lagi untukku di surga nanti.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s