Kisah dalam hujan

Dedaunan yang telah berubah warna menjadi kecoklatan, sudah tampak tua dan ingin segera berpisah dengan sang pohon, tapi pohon dengan setia menggenggam erat dedaunan terakhir yang tersisa. Mereka sama-sama berjuang untuk tetap bertahan di musim gugur ini. Musim yang memisahkan semua dedaunan dari pohonnya, musim yang sendu di kala hujan turun rintik-rintik. Sesendu hati para pecinta yang terpisahkan dari sang kekasih, simfoni yang memilukan ketika semuanya hanya bisa melihat hujan dan hanyutkan rindu ini. Sentuh saja hujan itu, biarkan airnya mengalirkan rindumu ke laut dan laut menghubungkan tempat kita berdua, dan rindu pun akan didendangkan oleh laut dengan benturan ombaknya ke tanah tempat kau berpijak, ombak yang takkan berhenti berdendang sampai kau mengerti betapa merindunya sang pecinta. Kalau hujan tidak turun ke laut, maka tunggulah sang angin lembut bertiup yang akan membawa hujan rindu ini ke tempat kau berada.

Dingin, hujan yang turun di musim gugur ini terasa dingin. Aku tadahkan kedua tangan untuk menggenggam hujan ini. Aku pun berpikir, apakah kau melihat hujan yang sama? Apakah kau merasakan hal yang sama di bawah hujan ini? apakah gemericiknya sampai ke hatimu disana, gemericik yang menyanyikan lagu sendu tentang rinduku padamu?

Sebuah toko bunga kujadikan sebagai tempat berteduh saat hujan. kulirik para bunga-bunga, mereka bersenandung gembira pada hujan. Aku ingin mereka menghiburku. Tapi saat aku mulai menyentuh para bunga, mereka diam, mereka kembali bisu, apakah mereka tidak menerimaku, ataukah mereka merasakan hati yang sendu di kala hujan bergemericik turun membasahi setiap tetes dedauanan yang tetap bertahan di musim ini. Aku kembali diam. Aku kembali menatap hujan.

Hujan yang turun kembali syahdu. Aku yang mulai merasa kedinginan, kembali mencoba untuk menghangatkan diri. Bayangan senyum itu yang tetap membuat sang pecinta tetap bertahan dengan cintanya. Sang pecinta yang melihat hujan bagaikan tetesan-tetesan air yang membiaskan sang pelangi. Apakah sang kekasih melihat hal yang sama di sana, di seberang lautan yang tidak bertepi.

Ataukah kau hanya melihat hujan ini sebagai air yang turun dengan derasnya yang memisahkan kita berdua. Derasnya hujan akan menyakiti kulit halusmu. Derasnya hujan akan membuat mu basah kuyup dan kotor. Tidak, jangan berpikir seperti itu. Tidak akan ada yang mampu memisahkan sang pecinta dengan sang kekasihnya, karena cinta itu di dalam hati. Cinta dari sang pecinta yang bisa meresap ke dalam hembusan angin lembut, saat angin lembut itu membelai wajahmu, maka kau akan merasakan hangatnya cinta dari sang pecinta.

Jangan lihat hujan sebagai pembatas, jangan lihat laut sebagai barrier yang memisahkan, tapi anggaplah semuanya menjadi ramuan yang memberi semangat cinta kita. Apakah kau mendengar cerita hati ini, aku hanya berpikir saat melihat hujan ini, apakah kau merasakan hal yang sama.

Masih ingatkah dirimu, saat kita terobos hujan yang sama, air yang turun dari langit yang sama, kita tidak menggigil kedinginan di bawahnya, tapi kita malah bersenandung tentang perisai dari baja yang bisa menahan hujan dan badai tatkala semua mimpi-mimpi sudah mulai terlihat. Apakah kau lupa dengan lagu itu, lagu dari hati kita berdua. Saat yang sama, saat hujan turun dari langit yang sama dan akan mengalir lagi ke laut yang sama.

Aku kembali menghangatkan diri di bawah hujan ini, para bunga yang kulirik tadi mulai bersenandung lagi. Harmonisasi irama yang brilliant antara merah, putih, biru, kuning dan warna-warna lainnya yang tidak bisa kudeskripsikan. Saat bunga bernyanyi, hujan mulai mereda. Dedauanan yang mati-matian untuk menggenggam sang pohon masih tetap bertahan, perjuangan yang sulit saat hujan datang. Hujan yang telah reda menyisakan jejaknya dimana-mana, dan juga di hati ini.

Aku mulai kembali berjalan melanjutkan sesuatu yang tertunda saat hujan turun. Aku mulai bersenandung tentang lagu hujan yang kita ciptakan.

“Menahan hujan dan badai

Kucoba tuk bertahan

Walau perisaiku tak Sekuat baja

Jalan yang kutempuh

Jalan yang kupilih

Walau rintangan datang menghadang”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s