Hujan senja (by: Robby Jannatan)

Hujan, mewakili tiap tetes air pada bulan September ini. Hujan adalah harapan, harapan bagi padi yang menghampar begitu luas, kering kerontang. Harapan bagi mereka yang sumurnya sudah tak menyisakan air seincipun. Harapan bagi mereka yang sudah tak memiliki air bersih di gurun Afrika sana. Hujan senja ini membawa harapan. Sudah sekian bulan aku menunggunya, sudah jutaan detik aku menghitungnya, tapi masih bisu. Mengharapkan hujan di kemarau memang hampir sebuah kajian yang mustahil. Tapi kita pasti tahu, kemarau akan berlalu dan disambut hujan yang menari-nari di bulan ini.
Kau pasti juga tahu, mengharapkan harapan dari hatimu ditengah ketidakacuhan adalah sebuah kemarau di hati yang menunggu air hujan untuk menyiramnya dari hatimu. Tapi pasti kita tahu, kemarau pasti berlalu. Disambut hujan pada bulan ini. Anak-anak menari-nari di tengah rintiknya. Berlari-lari karena harapan mereka terjawab setelah kemarau panjang, mereka tertawa lepas, sebebas-bebasnya, menendang bola, melompat ke selokan, bergolek di rerumputan yang tergenang air – sendu.
Aku tahu ketidakacuhan itu pasti berlalu, menjadi sebuah hujan dihatiku. Kamu tahu, harapan pasti selalu ada bagi orang-orang yang berani berharap, bagi orang yang yakin bahwa kemarau akan berakhir. Kamu tahu, pada kemarau yang panjang ini, awan sedang mengumpulkan uap-uap air menjadi sesuatu yang sangat besar. Kamu tahu, awan bukannya tidak mau menurunkan hujan tapi ia hanya menunda. Mencari waktu yang tepat untuk mencurahkan rintiknya, hanya ingin melihat seberapa sabar dan teguh kamu mengharapkannya. Kemarau adalah masa untuknya menilaimu, masa untuknya memperhatikannmu, masa untuknya melihat perjuanganmu, apakah kau berhak diberikan rintiknya. Rintik yang memang telah dipersiapkannya jauh hari selama kemarau.
Hujan senja ini, memberikan harapan bagi orang-orang yang berani berharap dan pantang putus asa. Senja ini, hujan turun begitu derasnya. Jantungku tak berdetak normal dan tak seperti ritme yang biasanya, aku tau kamu kedinginan, cuaca senja ini tidak begitu bersahabat, hujan melimpahkan rintiknya dan mengacaukan semua rencanaku satu persatu. Kamu disini, disebelah kananku tepatnya. Membuat ritme jantungku tak seirama dan tak sesuai ketukan.
Hari ini adalah hari yang memang kuistimewakan, walaupun hujan, tapi hujan pula yang akan mengingatkanmu kepadaku, kepada hari ini, kepada hati ini. Hari ini adalah hari yang kuharapkan hujan menetes dihatiku setelah kemarau yang sangat panjang, kemarau yang akan menguji kesabaranku, keteguhanku dan kepercayaanku kalau kemarau akan berakhir dan hanya akan merintik dihatimu membasahi hatiku.
Rencanaku tak selancar seperti yang kukira dan tak ada rencana lain yang kucadangkan. Disini, kita berteduh dari hujan. Kau disebelah kananku, sambil memandang hujan, hujan senja ini. Jantungku tak seirama, mungkin aliran darahmu juga begitu, kita sama-sama diam, tapi dalam harapan yang sama.
Akupun memulai,
“ kamu tahu makna hujan senja ini?”
Kamupun menggeleng malu-malu sambil mengulum senyum. Seakan-akan kamu bisa membaca hatiku, melafalkan setiap retaknya karena kemarau. Aku begitu kaku, apa kalian tahu, semua rencana yang telah kumatangkan sebelumnya diluluhlantakkan oleh hujan yang tak berperasaan, kamu tahu hari ini apa, kamu tahu?
Aku mau mengatakan cintaku, mengatakan cinta kepada gadis yang telah membuat kemarau dihatiku dan yang akan menentukan kemarau itu terus berlanjut atau meneteskan hujan dihatiku.
Apakah ada rencana cadangan, rencana cadangan selalu ada – kelu. Aku harus memutar otak mencoba memulai dan merangkum menjadi kata-kata. Apa kau tau, hujan selalu bisa mempercepat jalannya waktu. Semua terasa cepat di satu sisi dan terasa lambat di sisi lain, aku galau, aku grogi.
“apakah kamu mau jadi seseorang yang selalu berada disampingku, menjadi kekasihku?” kataku.
Pipimu lalu merona, kamu menunduk. Hujan ini rasanya akan menurunkan guntur, tapi tidak. Kau mengulum senyum dan menunduk perlahan – sendu. Hujan kali ini menyisakan pelangi, setelah kemarau panjang.
Kamu tahu makna hujan senja ini, hujan akan selalu mengingatkan kita pada senja hari ini. Mengingatkanmu padaku. Hari ini, hujan menyimpan memori, menimbulkan pelangi.

Hujan senja, kepadamu.
Ingin kudendangkan harmoni rintik senandungnya…
Merdu, mengantarkanku pulang kehatimu,
Sayang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s