Indonesia Negeri Surga, tapi…?

Tulisan sebelumnya menceritakan tentang betapa beruntungnya dan bangganya kita tinggal di Indonesia, negeri surga. Tulisan kali ini saya ingin menceritakan bahwa kita jangan sampai lengah dan terlalu berbesar hati, walaupun kita hidup di negeri surga. Sebenarnya saya ingin mengajak semuanya, warga Indonesia, untuk mencintai bangsa ini, negeri ini, negeri surga.

Tentu saja, semua orang mencintai tanah airnya, itu terbukti dengan semangatnya para supporter dalam mendukung timnas dalam event-event olahraga, terutama sepakbola. Biasanya supporter-supporter klub lokal di Indonesia selalu bentrok dengan supporter dari klub lainnya, tapi ketika Indonesia melawan Negara lain, semua permusuhan lokal dihilangkan, semua atribut klub diganti dengan merah putih dan semuanya berteriak “Indonesia…garuda di dadaku”.  Hal itu terjadi karena kita semua mencintai tanah air kita, Indonesia. Dalam tulisan kali ini, saya tidak akan membahas tentang itu, cinta tanah air yang saya maksud disini lebih kepada identitas dan jati diri.

Ketika semua orang dihimbau untuk mengangkat senjata melawan pejajah, maka seluruh rakyat Indonesia akan mengangkat senjatanya dan bertempur untuk mengusir penjajah, “MERDEKA ATAU MATI” dengan lantang mereka berteriak. Ketika semua orang dihimbau untuk mendukung tim nasional dalam event olahraga, semuanya akan mengenakan atribut merah putih, dan dengan lantang mereka bersorak “HIDUP INDONESIA”. Dan bagaimana jadinya, kalau semua orang dihimbau untuk memperbaiki identitas dan jati diri bangsa ini?, apa yang akan kita lakukan?. Saya menyebut identitas dan jati diri, hal ini lebih mengacu kepada kepribadian dan pola pikir kita secara global sebagai bangsa Indonesia.

Mengapa hal ini menjadi pembahasan dalam tulisan ini, karena kemaren saya membaca sebuah tulisan tentang pendapat orang jepang terhadap Indonesia; (1) Indonesia berlaku budaya jam karet, (2) Indonesia mempunyai moto “ kalau bisa besok, kenapa tidak”, (3)  dan jarang mau turun lansung ke lapangan. Tiga poin yang saya tangkap. Kalau orang asing berpendapat seperti itu, tentu saja akan menghukum warga Negara Indonesia lainnya, karena hal ini bersifat global.

Jam karet, begitu istilah yang biasa disebut di Indonesia. maksud dari istilah ini adalah tidak pernah menepati waktu yang telah disepakati, secara kasarnya selalu terlambat. Hal ini telah menjadi suatu kebiasaan di Indonesia dan jangan sampai hal ini menjadi budaya. Kebiasaan berarti hanya segelintir orang yang melakukan atau lebih kepada individunya, sedangkan budaya merupakan hampir seluruh warga Indonesia yang melakukannya dan dilakukan berulang kali. Apakah faktor yang menyebabkan hal ini, tentu saja diawali dengan contoh, karena kita akan belajar cepat apabila ada contoh yang baik dan benar. Misalnya, seorang mahasiswa sudah tepat waktu untuk mengikuti mata kuliah, namun dosen yang bersangkutan malah datang terlambat dari waktu yang disepakati. Apabila hal ini berulang sekitar dua atau tiga kali, maka alhasil untuk proses perkuliahan besoknya, mahasiswa tersebut akan pikir-pikir untuk datang tepat waktu. Tentu saja ia akan mengambil kesimpulan lebih baik saya juga ikut terlambat daripada tepat waktu dan selalu menunggu dosen yang terlambat. Atau kita coba ambil contoh lain yang hampir sama, misalnya seorang mahasiswa ingin berdiskusi dengan dosennya, setelah disepakati maka ditetapkanlah jadwal untuk pertemuan selanjutnya, sebagai seorang mahasiswa tentu saja akan mempersiapkan semua bahan diskusi sebelumnya. Namun, beberapa jam sebelum waktu yang telah disepakati, sang Dosen menelepon dan mengabari bahwa Ia tidak bisa hadir karena ada rapat, dengan alasan tersebut sang mahasiswa masih maklum. Setelah diatur ulang jadwal pertemuan, menjelang hari “H” sang dosen kembali menelepon dan mengatakan bahwa Ia mau pergi ke lapangan, “jadi diskusinya besok saja ya” kira-kira seperti itu ucapan sang dosen. Hal ini secara tidak lansung akan mendidik mahasiswa tersebut untuk tidak menghargai waktu. Beberapa contoh di atas sangat sering saya temui dalam proses perkuliahan dan masih bnayak hal-hal kecil yang secara tidak lansung mengajarkan kita tentang “jam karet” ini.

Saya ingin bertanya, apakah anda tidak malu kalau dikatakan bahwa bangsa ini, bangsa jam karet? Sejujurnya saya merasa sangat malu sekali. Kalau yang mengatakan hal ini adalah sesama warga Indonesia, kita masih belum teralu memikirkannya, tapi apabila ini dikatakan oleh bangsa lain, tentu saja akan menjadi bahan pikiran kita, karena identitas dan jati diri kita dianggap negatif. Karena saya juga mengakui bahwa saya juga sering terlambat, saat ini saya sedang merubah kebiasaan tersebut. Saya ingin mengganti identitas dan jati diri bangsa Indonesia menjadi lebih positif, ketika anda membaca ini, tentu saja anda akan merasakan hal yang sama dan memikirkan perubahan yang sama. Mari kita mulai untuk menjadi Indonesia dengan Identitas dan jati diri lebih baik, hal ini dimulai dari sesuatu yang sangat kecil yaitu “menghargai waktu”, dan juga dimulai dari satu orang yang mengajak satu orang berikutnya, orang kedua juga akan mengajak orang berikutnya untuk melakukan hal yang sama. Maka terbuatlah suatu jaringan perubahan yang akan mengubah identitas jam karet ini, menjadi bangsa yang sangat menghargai waktu.

Ungkapan “kalau bisa besok, kenapa tidak?” senada dengan jam karet, intinya adalah menghargai waktu. Kalau kita berharap untuk mengerjakan esok hari, apakah kita sudah yakin esok hari kita masih hidup dan bernafas. Kata orang bijak “ kemaren adalah kenangan, Hari ini adalah kreasi, dan Esok adalah misteri”. Dalam menunda suatu pekerjaan, tentu kita memiliki suatu alasan yang jelas, yang sangat tidak baik adalah menunda-nunda sesuatu tanpa ada alasan yang pasti, dan harinya hanya dihabiskan oleh sesuatu yang tidak berguna. Menunda-nunda sesuatu yang tanpa alasan tersebutlah yang sangat merusak dan membuat jelek identitas kita. Mari sama-sama kita mulai kembali belajar untuk menghargai waktu.

Yang ketiga adalah “jarang mau turun lansung ke lapangan”, ungkapan ini rasanya lebih cocok jika kita tujukan kepada bapak-bapak dan ibuk-ibuk kita yang duduk di pemerintahan. Tidak semua orang termasuk dalam ungkapan ini, kalau melihat berita di TV ada gubernur yang lansung turun ke lapangan untuk menyapa warganya. Namun, sebagian besar termasuk dalam ungkapan ini. Mereka kadang hanya peduli dengan urusan pribadi tanpa melihat ke bawah dimana rakyat dalam kondisi yang kurang memadai. Untuk yang ketiga ini saya tidak ingin membahas banyak hal, saya cuma ingin menyampaikan pendapat dan pemikiran saya. Mungkin tulisan selanjutnya akan membahas hal ini lebih mendalam.

Jadi, sesuatu hal yang kecil kadang akan berpengaruh kepada hal yang besar; “Butterfly Effect”. Kadang hanya satu orang akan mebuat suatu Negara merasakannya, di sini saya ingin menjadi satu orang tersebut dalam artian yang positif, dengan perubahan oleh satu orang yang mengajak orang selanjutnya dan terus berlanjut seperti itu, maka Indonesia akan dikenal sebagai bangsa yang besar, Negara Surga, Negara Adidaya.  

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s